Berikut 10 saham dengan angka net buy tertinggi yang paling jadi incaran akumulasi oleh investor asing sepanjang perdagangan Selasa (17/3/2026):
- PT Merdeka Gold Resources Tbk (EMAS) Rp727,82 miliar
- PT Adaro Andalan Indonesia Tbk (AADI) Rp113,63 miliar
- PT Telkom Indonesia Tbk (TLKM) Rp72,99 miliar
- PT Indo Tambangraya Megah Tbk (ITMG) Rp54,7 miliar
- PT Archi Indonesia Tbk (ARCI) Rp53,99 miliar
- PT XLSMART Telecom Sejahtera Tbk (EXCL) Rp42,01 miliar
- PT Unilever Indonesia Tbk (UNVR) Rp34,14 miliar
- PT Alamtri Minerals Indonesia Tbk (ADMR) Rp19,61 miliar
- PT Nusantara Sawit Sejahtera Tbk (NSSS) Rp14,87 miliar
- PT Bukit Asam Tbk (PTBA) Rp14,49 miliar
- PT Triputra Agro Persada Tbk (TAPG) Rp12,36 miliar
BI Tahan Suku Bunga Acuan
Bank Indonesia (BI) mengumumkan hasil Rapat Dewan Gubernur (RDG) periode Maret 2026. Hasilnya, BI Rate ditahan.
“Rapat Dewan Gubernur Bank Indonesia pada 16-17 Maret 2026 memutuskan untuk mempertahankan BI Rate sebesar 4,75%, suku bunga Deposit Facility sebesar 3,75%, dan suku bunga Lending Facility sebesar 5,5%,” papar Gubernur BI, dalam Konferensi Pers usai RDG, mengutip Rabu (18/3/2026).
Adapun hasil rapat ini sesuai dengan estimasi pasar. Konsensus yang dihimpun Bloomberg menghasilkan median proyeksi BI Rate bertahan tetap di level 4,75% pada pertemuan Maret.
Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo menjelaskan, kebijakan ini ditempuh seiring eskalasi konflik di Timur Tengah yang berpotensi mendorong kenaikan harga minyak dunia, yang pada nantinya menekan pertumbuhan ekonomi global sekaligus meningkatkan inflasi global. Kondisi tersebut turut memicu gejolak di pasar keuangan global.
Penilaian BI, dampak eskalasi tersebut sudah mulai terasa melalui keluarnya aliran modal portofolio asing dari negara emerging market, termasuk Indonesia, serta tekanan terhadap nilai tukar seiring penguatan dolar Amerika Serikat.
Ke depan, BI memberikan sinyal untuk tak lagi memangkas suku bunga acuan BI Rate, menggeser fokus kebijakan ke arah stabilitas di tengah dinamika geopolitik yang terus memanas.
“Kami dalam pernyataan ini tidak lagi menyampaikan kemungkinan penurunan suku bunga,” kata Perry Warjiyo.
Phintraco Sekuritas memaparkan, seperti yang diperkirakan, RDG BI mempertahankan BI Rate pada level 4,75%, sebagai upaya menjaga stabilitas nilai tukar rupiah dan inflasi di tengah memburuknya kondisi global akibat konflik di Timur Tengah.
Senada, Panin Sekuritas dalam risetnya menyebut, Keputusan BI yang menahan suku bunganya sejalan dengan ekspektasi pasar, mengingat kondisi nilai tukar rupiah yang kian tertekan, inflasi umum yang masih berada di atas target BI, serta tren surplus dagang yang kian menipis.
“Beberapa langkah lainnya yang dilakukan BI dalam merespon perkembangan pasar terkini, termasuk penguatan kebijakan intervensi pasar valas dan lalu lintas devisa,” terang Panin.
Ke depannya, seiring dengan ruang penurunan kebijakan moneter global semakin kecil, termasuk kemungkinan semakin tertundanya penurunan suku bunga The Fed, Panin memprediksi BI Rate tetap akan ditahan sepanjang Semester I–2026, dan membuka peluang pemangkasan 1—2 kali (25—50bps) pada Semester II–2026. Adapun BI akan tetap mendorong pertumbuhan kredit perbankan melalui kebijakan makroprudensialnya.
(fad/wdh)





























