Dia membenarkan hingga saat ini proses diplomasi untuk membebaskan kedua kapal tersebut masih terus dilakukan pemerintah.
"PIS berkoordinasi intensif baik dgn Pemerintah Indonesia, otoritas maritim, dan pihak berwenang setempat," terangnya.
Dalam kesempatan sebelumnya, Direktur Utama PT Pertamina (Persero) Simon Aloysius Mantiri mengungkapkan peusahaan telah melakukan diversifikasi sumber impor minyak dan gas (migas).
Hal ini sebagai respons atas kekhawatirkan pasokan dalam negeri yang terancam. Simon mengataka sumber impor migas Indonesia tidak hanya berasal dari Timur Tengah, melainkan juga Afrika hingga Benua Amerika.
"Untuk antisipasi, kami juga melakukan diversifikasi sumber dan ini juga tentunya sudah seperti biasa, sumber-sumber kita tidak hanya dari Timur Tengah," ujar Simon, belum lama ini.
Terkait dengan kargo yang dibawa, Simon enggan mengonfirmasi apakah tanker Pertamina Pride mengangkut minyak mentah seberat 1,8 juta barel dan menuju Indonesia atau tidak.
Adapun, 2 kapal tanker tersebut yakni supertanker atau very large crude carrier (VLCC) Pertamina Pride dan Gamsunoro.
VLCC Pertamina Pride dioperasikan untuk memenuhi kebutuhan energi nasional, sedangkan Gamsunoro untuk melayani pihak ketiga (non-Pertamina).
Awalnya terdapat empat kapal PIS yang berada di kawasan Timur Tengah. Antara lain; Gamsunoro di Khor al Zubair, Irak, Pertamina Pride yang tengah melakukan proses muat di Ras Tanura, PIS Rinjani dalam posisi lego jangkar di Khor Fakkan, serta PIS Paragon di Oman.
Belakangan, PIS Paragon dan PIS Rinjani berhasil keluar dari wilayah konflik Timur Tengah, dan tengah melayani distribusi energi untuk mitra pihak ketiga.
Secara total, PIS saat ini mengoperasikan 345 kapal untuk mendukung kebutuhan energi dalam negeri.
(ibn/wdh)



























