Logo Bloomberg Technoz

Koreksi kemarin membuat harga emas dunia turun empat hari berturut-turut. Selama empat hari tersebut. harga terpotong 3,51% secara point-to-point.

Perang di Timur Tengah malah menjadi beban bagi gerak harga emas. Konflik antara Amerika Serikat (AS) dan Israel melawan Iran tersebut sudah memasuki pekan ketiga.

Perang itu praktis menutup arus pelayaran di Selat Hormuz, jalur kunci pengiriman minyak dari kawasan Teluk. Presiden AS Donald Trump meminta bantuan dari negara-negara sekutu untuk mengamankan jalur tersebut.

Tidak hanya itu, berbagai fasilitas minyak di Teluk juga terkena serangan. Kemarin, Iran menyerang fasilitas di Uni Emirat Arab dan AS juga membombardir infrastruktur perminyakan andalan Iran di Pulau Kharg.

Perkembangan tersebut membuat harga minyak melonjak. Dalam sepekan terakhir, harga minyak jenis brent meroket 16,75%. Dalam periode yang sama, harga minyak light sweet melejit 14,7%.

Kenaikan harga minyak pada saatnya akan ikut mengerek harga bahan bakar minyak (BBM). Ketika ini terjadi, maka inflasi akan meninggi sehingga bank sentral di berbagai negara (termasuk Federal Reserve di AS) kesulitan untuk melonggarkan kebijakan moneter. Prospek penurunan suku bunga acuan menjadi samar-samar.

Awalnya pasar memperkirakan suku bunga acuan di AS bisa turun sampai tiga kali tahun ini. Namun dengan situasi sekarang, sekali saja mungkin sudah syukur.

Emas adalah aset yang tidak memberikan imbal hasil (non-yielding asset). Memegang emas menjadi kurang menguntungkan saat suku bunga belum turun.

(aji)

No more pages