Logo Bloomberg Technoz

Kenaikan harga kemudian berubah menjadi lonjakan tajam pada awal Maret. Pada 9 Maret, harga minyak sempat melonjak hingga US$116,78 per barel, mencerminkan meningkatnya ketegangan geopolitik global serta kekhawatiran pasar terhadap potensi gangguan pasokan energi.

Meski setelah itu harga sempat terkoreksi, minyak masih bertahan di level tinggi di kisaran US$100 per barel. Kondisi ini menjadi perhatian bagi negara pengimpor energi seperti Indonesia karena berpotensi meningkatkan biaya impor minyak sekaligus menambah tekanan terhadap defisit transaksi berjalan dan posisi fiskal.

Beban Fiskal

Di tengah meningkatnya tekanan eksternal, pemerintah berupaya menenangkan pasar dengan menegaskan komitmennya terhadap disiplin fiskal. Presiden Prabowo Subianto menyatakan bahwa pemerintah hanya akan mempertimbangkan untuk melampaui batas defisit anggaran yang diatur undang-undang secara sementara dan dalam kondisi darurat. 

Namun di saat yang sama, tantangan terhadap disiplin fiskal juga semakin benderang. Menteri Koordinator Perekonomian Airlangga Hartato sebelumnya mengingatkan bahwa mempertahankan batas defisit 3% dari PDB tidak akan mudah tanpa melakukan upaya penyesuaian belanja yang berpotensi menekan laju pertumbuhan ekonomi. 

Situasi ini makin kompleks dengan adanya lonjakan harga minyak akibat eskalasi ketegangan di Timur Tengah, dan membuat harga energi jauh melampaui asumsi awal dalam APBN. 

Mengacu pada kalkulasi Kementerian Keuangan, jika harga minyak bertahan lebih lama di atas US$90 per barel, maka defisit dapat melebar hingga 3,6%. 

Saat ini, pasar sepertinya menangkap adanya dilema kebijakan. Antara menjaga disiplin fiskal, tetapi menjaga momentum pertumbuhan ekonomi.

(dsp/aji)

No more pages