Logo Bloomberg Technoz

Menurut Bahlil, Brunei juga tengah merencanakan peningkatan kapasitas terpasang pembangkit listrik nasional hingga lima kali lipat dari kapasitas saat ini.

Negara tersebut menargetkan tambahan kapasitas sekitar 4 gigawatt (GW) dari kapasitas eksisting yang saat ini sekitar 1 GW.

Opsi Impor Minyak

Selain membahas sektor ketenagalistrikan, kedua negara juga mendiskusikan peluang kerja sama di sektor minyak.

Dengan produksi minyak Brunei yang berkisar antara 100.000—110.000 barel per hari (bph), Indonesia membuka peluang penjajakan impor minyak dari negara tersebut sebagai salah satu opsi memperkuat ketahanan energi nasional.

“Penjajakan impor minyak bumi dari Brunei menjadi salah satu opsi strategis yang kita dorong untuk memastikan ketersediaan pasokan energi nasional tetap aman,” ujar Bahlil.

Dalam pertemuan tersebut, Brunei juga menyampaikan minat mempelajari teknologi enhanced oil recovery (EOR) yang digunakan oleh perusahaan migas nasional Pertamina untuk meningkatkan produksi di sumur minyak tua.

Perwakilan Brunei menyatakan saat ini telah menggunakan metode water flooding untuk meningkatkan produksi minyak dan membuka peluang penerapan teknologi lain seperti chemical flooding melalui EOR.

Di sisi lain, Indonesia juga mendorong partisipasi Brunei dalam investasi sektor energi melalui skema Koridor Ekonomi Indonesia atau Indonesian Economic Development Corridor (IEDC), termasuk pembangunan infrastruktur ketenagalistrikan di wilayah terpencil yang masih membutuhkan dukungan energi.

Kerja sama yang dibahas juga mencakup penguatan kapasitas sumber daya manusia melalui program pelatihan di sektor hulu migas serta pengembangan keahlian auditor energi terbarukan.

Pertemuan di sela forum energi di Tokyo tersebut menjadi bagian dari upaya kedua negara memperluas kerja sama strategis di sektor energi, mulai dari potensi pasokan minyak hingga pengembangan teknologi energi bersih di kawasan Asia Tenggara.

(fik/wdh)

No more pages