Pada skenario pertama, dengan rata-rata ICP sekitar US$90 per barel sepanjang 2026, kurs rupiah diasumsikan Rp17.000 per dolar AS dengan pertumbuhan ekonomi 5,3%, imbal hasil surat berharga negara diperkirakan 6,8%, sehingga defisit APBN diproyeksikan mencapai 3,18% PDB.
Kondisi tersebut dapat terjadi jika perang AS-Israel dan Iran terjadi selama 5 bulan dan harga minyak mentah melonjak ke level US$107 per barel dalam periode perang tersebut.
Sementara pada skenario moderat, jika harga minyak sepanjang tahun ini sebesar US$97 per barel, kurs rupiah Rp17.300 per dolar AS, pertumbuhan ekonomi 5,2%, tingkat bunga surat berharga negara sekitar 7,2%. Pada skenario ini, defisit APBN berpotensi melebar menjadi 3,53% PDB.
Kondisi tersebut dapat terjadi jika perang AS-Israel dan Iran terjadi selama 6 bulan dan harga minyak mentah melonjak ke level US$107 per barel dalam periode konflik tersebut.
Sedangkan pada skenario terburuk, ketika rata-rata harga minyak mencapai US$115 per barel, kurs rupiah diasumsikan melemah hingga Rp17.500 per dolar AS dengan pertumbuhan ekonomi 5,2% dan imbal hasil surat berharga negara 7,2%. Dalam kondisi tersebut, Airlangga memprediksi defisit APBN mencapai 4,06% terhadap PDB.
Airlangga mengungkapkan skenario tersebut dapat terjadi jika perang terjadi selama 10 bulan dan harga minyak mentah menyentuh level US$130 per barel dalam periode perang tersebut.
Dengan berbagai simulasi tersebut, Airlangga menyatakan target defisit APBN sebesar 3% bakal sulit dipertahankan apabila harga minyak melonjak tajam.
“Jadi artinya dengan berbagai skenario ini, defisit yang 3% itu sulit kita pertahankan, kecuali kita mau memotong belanja dan memotong pertumbuhan, Pak Presiden,” ungkap dia.
Buka Potensi Pelebar Defisit
Airlangga mengungkapkan pemerintah dapat memperlebar defisit APBN batas 3% terhadap PDB, seperti yang tercantum dalam Undang-undang Keuangan Negara.
Hal tersebut bisa dilakukan melalui penerbitan Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-undang (Perppu).
“Defisitnya bisa lebih dari 3%, kemudian anggaran lintas program ini bisa kita ubah tanpa DPR Pak. Dengan Perppu ini kita langsung pemerintah punya fleksibilitas untuk perubahan,” ujar dia.
“Kemudian BLT energi dilanjutkan dan sosial darurat juga bisa ditambahkan ini dengan Perpres. Dan penerbitan SBN juga bisa jalan dan bisa menggunakan SAL,” lanjut Airlangga.
Berikut 3 skenario kenaikan harga minyak mentah yang mungkin dihadapi Indonesia:
Skema 1 (Kenaikan selama 5 bulan)
Jan: US$64,41 per barel
Feb: US$68,79 per barel
Mar: US$107 per barel
Apr: US$107 per barel
Mei: US$107 per barel
Jun: US$107 per barel
Jul: US$107 per barel
Agt: US$96 per barel
Sept: US$85 per barel
Okt: US$77 per barel
Nov: US$77 per barel
Des: US$77 per barel
Rata-rata: US$90 per barel
Skema 2 (Kenaikan selama 6 bulan)
Jan: US$64,41 per barel
Feb: US$68,79 per barel
Mar: US$107 per barel
Apr: US$107 per barel
Mei: US$107 per barel
Jun: US$107 per barel
Jul: US$107 per barel
Agt: US$107 per barel
Sept: US$98 per barel
Okt: US$97 per barel
Nov: US$97 per barel
Des: US$97 per barel
Rata-rata: US$97 per barel
Skema 3 (Kenaikan selama 10 bulan)
Jan: US$64,41 per barel
Feb: US$68,79 per barel
Mar: US$115 per barel
Apr: US$120 per barel
Mei: US$130 per barel
Jun: US$130 per barel
Jul: US$125 per barel
Agt: US$125 per barel
Sept: US$125 per barel
Okt: US$125 per barel
Nov: US$125 per barel
Des: US$125 per barel
Rata-rata: US$115 per barel
(azr/del)





























