Kelesuan harga emas dunia terjadi akibat harga minyak bumi yang kembali melesat. Kemarin, harga minyak jenis Brent meroket 9,72% ke US$ 95,73/barel, tertinggi sejak Juli 2022 atau lebih dari tiga tahun terakhir.
Lesatan harga minyak disebabkan oleh konflik di Timur Tengah yang berkepanjangan. Setelah hampir dua pekan, belum ada tanda-tanda bahwa perang Amerika Serikat (AS) dan Israel melawan Iran bakal segera rampung.
Perang ini efektif menutup jalur pelayaran di Selat Hormuz, yang merupakan rute kunci untuk perdagangan minyak di kawasan Teluk. Gangguan ini sangat terasa, sehingga membuat harga minyak mengudara.
Apabila harga si emas hitam terus tinggi, maka pasti akan mempengaruhi harga Bahan Bakar Minyak (BBM). Artinya, risiko tekanan inflasi akan membayangi perekonomian dunia.
Ketika inflasi tinggi, maka bank sentral (termasuk Federal Reserve di AS) akan sulit untuk melonggarkan kebijakan moneter. Penurunan suku bunga acuan sepertinya belum masuk radar, setidaknya dalam waktu dekat.
Emas adalah aset yang tidak memberikan imbal hasil (non-yielding asset). Memegang emas jadi kurang menguntungkan saat suku bunga belum turun.
(aji)






























