“Tahap dua kita akan selesaikan kira-kira ada 14 lagi mudah-mudahan," tutur dia.“Jakarta itu [menghasilkan] 7 ribu hampir 8 ribu ton setiap hari sampah. Sehingga sudah seperti gedung,” ujarnya.
Selain itu, fasilitas pengolahan sampah juga direncanakan di kawasan Tanjungan dan Sunter dengan kapasitas ribuan ton sampah/hari.
Untuk mendukung pengembangan teknologi pengolahan sampah, pemerintah juga menggandeng sejumlah lembaga riset dan perguruan tinggi, termasuk Badan Riset dan Inovasi Nasional serta Institut Teknologi Bandung.
“Kita kerjasama dengan BRIN, kemudian dengan Dikti, Menteri Dan juga kampus-kampus termasuk ITB dan lain-lain Kampus yang ada jurusan insinyurnya disitu kita kerjasama Untuk membuat alat-alat penggunaan sampah ini,” ujarnya.
Pemerintah menargetkan proyek tahap pertama mulai beroperasi pada awal 2028, sementara proyek tahap berikutnya diharapkan menyusul hingga 2029.
Sebelumnya, Badan Pengelola Investasi (BPI) Danantara mengumumkan dua mitra terpilih pembangkit listrik tenaga sampah (PLTSa) di Bekasi dan Denpasar. Kedua perusahaan pemenang lelang tersebut sama-sama berasal dari China.
Mereka adalah Wangneng Environment Co., Ltd. sebagai operator untuk PLTSa di Bekasi dan Zhejiang Weiming Environment Protection Co., Ltd. sebagai operator untuk PLTSa di Denpasar.
“Mitra operator terpilih diharapkan mampu menjaga kinerja operasional yang konsisten, memastikan kepatuhan terhadap seluruh ketentuan yang berlaku," ujar Chief Investment Officer (CIO) Danantara Pandu Sjahrir dalam siaran pers.
Program pengolahan sampah menjadi energi listrik (PSEL) bertujuan untuk mengatasi permasalahan sampah dengan memperkuat pengelolaan sampah perkotaan, mengurangi ketergantungan pada pembuangan ke tempat pembuangan akhir (TPA), serta mendukung pembangkit energi yang berkelanjutan.
(wep)
































