Di sisi lain, Prabowo meminta pengurus BPI Danantara untuk mencetak RoA minimal 10% nantinya.
“Kita harus memiliki target yang bagus yaitu 10%, tapi kita mengeri bahwa itu mungkin dalam tahun-tahun pertama belum bisa kita capai,” kata dia.
Sementara itu, dia menerangkan, apabila tingkat imbal hasil asset berada di kisaran 5%, Danantara mesti mengembalikan sekitar US$50 miliar ke pemerintah.
“Jadi pimpinan Danantara, sasaranmu masih jauh,” tuturnya.
Sebelumnya, BPI Danantara mengejar sejumlah proyek investasi melalui skema investasi langsung di sektor riil serta investasi portofolio pada instrumen saham dan obligasi.
CIO BPI Danantara Pandu Sjahrir memastikan target imbal hasil aset yang ditargetkan Prabowo menjadi acuan baru dalam strategi nvestasi lembaga yang baru dibentuk Februari 2025 itu.
Pandu mengatakan peningkatan ekspektasi tersebut akan diikuti dengan penyesuaian strategi investasi, termasuk pengetatan standar dan seleksi proyek.
Fokus akan diarahkan pada proyek dengan tingkat pengembalian lebih tinggi tanpa mengurangi dampak yang dihasilkan.
“Ya bagus, dengan ekspektasi lebih tinggi, kita akan fokus pada proyek-proyek yang lebih higher return dengan impact yang sama, kita juga akan sekarang lebih, barrier-nya akan lebih tinggi lagi, standarnya dinaikin,” ujarnya saat ditemui usai Indonesia Economic Outlook 2026, Jumat (13/2/2026).
Dalam pengelolaan portofolio, Pandu menekankan sekitar 50% dana akan dialokasikan ke instrumen public-like investment sebagai bagian dari alokasi aset strategis, baik melalui obligasi maupun saham publik.
Untuk investasi di pasar saham, Danantara akan memilih perusahaan dengan fundamental baik, valuasi yang terjaga, serta likuiditas tinggi.
“[Hal] yang penting kan masuk ke public equity itu kita harus perusahaan yang bagus, fundamental yang baik, valuasi yang baik, dan juga likuid, terus likuid,” kata Pandu.
Catatan: Artikel diperbarui untuk mengoreksi pengertian kenaikan RoA di judul dan paragraf pertama.
(naw)































