Logo Bloomberg Technoz

“Koreksi harga emas sepertinya hanya jeda, bukan menyerah kalah. Ekspektasi terhadap tekanan harga membangkitkan dolar dan ruang pemangkasan suku bunga sepertinya sulit terjadi dalam waktu dekat. Ini menjadi sentimen yang membuat arus modal keluar dari emas,” jelas Hebe Chen, Analis Vantage Markets, seperti dikutip dari Bloomberg News.

Ya, dolar Amerika Serikat (AS) memang sedang dalam tren menguat. Kemarin, Dollar Index (yang mencerminkan posisi greenback terhadap enam mata uang utama dunia) terapresiasi 0,46% ke 99,277. 

Emas adalah aset yang dibanderol dalam dolar AS. Saat mata uang Negeri Paman Sam menguat, maka emas jadi lebih mahal bagi investor yang memegang mata uang lain.

Apalagi penguatan dolar AS datang akibat persepsi bahwa bank sentral Federal Reserve akan sulit menurunkan suku bunga acuan dalam waktu dekat. Ini karena sepertinya inflasi di Negeri Adikuasa akan meninggi akibat lonjakan harga minyak.

“Semakin lama konflik berlanjut, maka makin besar pula risiko mendorong inflasi ke atas. Bulan depan, rasanya kita akan melihat kenaikan harga energi dan itu akan ikut mengerek harga kelompok barang dan jasa lainnya,” sebut Elizabeth Renter, Ekonom Senior NerdWallet, juga dinukil dari Bloomberg News.

Emas juga merupakan aset yang tidak memberikan imbal hasil (non-yielding asset). Memegang emas menjadi kurang menguntungkan saat suku bunga turun.

(aji)

No more pages