Keseimbangan primer merupakan selisih antara pendapatan negara dan belanja negara di luar pembayaran bunga utang, sehingga indikator ini kerap digunakan untuk melihat kemampuan fiskal pemerintah membiayai pengeluaran sebelum kewajiban bunga utang diperhitungkan.
Purbaya menyebut pendapatan negara tersebut tercatat sekitar 11,4% dari target APBN dengan pertumbuhan 12,8% secara tahunan. Kinerja tersebut terutama didorong oleh penerimaan perpajakan yang masih solid, dengan realisasi penerimaan tumbuh 20,5% dibandingkan periode yang sama tahun lalu.
Penerimaan pajak hingga Februari tercatat sebesar Rp245,1 triliun dan penerimaan kepabeanan dan cukai Rp44,9 triliun.
Secara keseluruhan, penerimaan pajak mencatatkan pertumbuhan sebesar 30,4%. Sementara itu, penerimaan kepabeanan dan cukai mencapai Rp44,9 triliun atau sekitar 13,4% dari target APBN, meski masih mengalami kontraksi 4,7% yang dipengaruhi oleh dinamika harga komoditas.
“Ke depan kami masih menghrapkan target dari penerimaan bea cukai tercapai dari belanja realisasi 493,8 triliun” katanya.
Sementara itu, Belanja negara terdiri belanja pemerintah pusat Rp346,1 triliun dan Transfer ke Daerah (TKD) sebesar Rp147,7 triliun.
Belanja pemerintah pusat sebesar Rp346,1 triliun itu terbagi belanja kementerian/lembaga sebesar Rp155 triliun dan non kementerian/lembaga sebesar Rp191 triliun.
(ell)




























