Logo Bloomberg Technoz

"Ragam-ragamnya juga diperbanyak bukan cuma di fosil, tetapi juga ada energi terbarukan. Energi terbarukan itu ada di dalam negeri. Kita enggak harus impor."

Dia menceritakan UU Energi dikeluarkan karena saat itu, periode 2005—2007, harga minyak dunia juga mengalami kenaikan. Salah satu kebijakan energi nasional saat itu ialah untuk mendorong diversifikasi energi. 

"Harga minyak naik dua kali lipat kalau saya tidak salah, sehingga tiba-tiba pemerintah harus mengalokasikan subsidi yang cukup besar. Mengapa? Karena pada saat itu juga, sejak 2004, produksi minyak kita makin turun dan pada saat itu hanya cukup untuk memenuhi kebutuhan kilang dalam negeri," ungkapnya.

Dalam perjalanannya, lanjut Fabby, Indonesia sempat mengalami krisis. Bahan bakar minyak (BBM) tidak tersedia merata, harganya mahal, subsidi pemerintah besar di era Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY).

"Karena itulah, kenapa salah satu strategi diversifikasi adalah pemanfaatan energi terbarukan. Karena energi terbarukan, pertama kita punya sendiri, tidak harus impor. Kedua, dia site specific [tersedia di lokasi-lokasi di mana energi itu dibutuhkan]," jelas Fabby.

Tidak Mahal

Dengan demikian, menurutnya, pemahaman bahwa EBT mahal adalah pemahaman kuno.

Pasalnya, apabila eksplorasi panas bumi bagus, biayanya rendah, lalu pengembangan projeknya didukung dengan pendanaan yang tepat, jadi harga listriknya tidak akan mahal.

"Hari ini di Indonesia saya bisa bilang, tapi masalahnya yang dikembangkan oleh pemerintah iya adalah energi yang mahal. Apa itu misalnya? Untuk mengurangi impor BBM, pemerintah mendorong biofuel. Biofuel itu mahal benar. Karena apa? Karena bahan bakunya yang sekarang berasal dari minyak CPO, minyak sawit. Sementara itu, minyak sawit itu juga komoditas ekspor yang harganya internasional," katanya.

Dia mengatakan biaya produksi untuk menghasilkan satu ton minyak sawit juga tinggi, sehingga justru strategi Indonesia mengembangkan EBT-lah yang membuatnya mahal. padahal energi terbarukan tidak semuanya mahal.

"Nah, energi terbarukan yang lain itu banyak yang murah. PLTS lebih murah. PLTS dengan baterai harga listriknya lebih murah daripada PLTU baru. Lebih murah daripada gas. Justru yang sekarang ini karena kita banyak pakai energi fosil, yang harganya tadi dipengaruhi oleh bukan saja demand supply, tetapi juga oleh faktor geopolitik, itu yang membuat biaya penyediaan energi kita jadi mahal."

Menurut Fabby, padahal, apabila banyak tersedia EBT, capital expenditure (capex)-nya tinggi, tetapi operating expenditure (opex)-nya rendah. Penelitian IESR menemukan harga listrik yang dihasilkan PLTS plus baterai lebih murah dari harga listrik yang dihasilkan PLTU batu bara.

"Apalagi sekarang harga listrik dari PLTU batu bara dikesankan murah padahal mahal. Kenapa murah? Karena diberikan subsidi, juga dalam bentuk harga DMO [domestic market obligation]. Jadi, enggak tepat dibilang bahwa energi terbarukan itu mahal."

Dia pun mendesak pemerintah agar serius mengembangkan EBT, sehingga harganya bisa turun lagi. Dalam konsep teknologi, ada economy of scale. Jadi, apabila teknologi semakin banyak dipasang atau dipakai, harganya akan semakin turun.

"Kita ini lamban, sehingga harganya seakan-akan mahal, padahal enggak juga sih, dan karena energi fosilnya disubsidi. Makanya, kelihatan energi fosilnya murah, padahal mahal. Semuanya itu ditanggung negara," ujarnya.

(ros/wdh)

No more pages