Logo Bloomberg Technoz

"Apa pun terjadi di mana bangsa-bangsa lain banyak akan mengalami kesulitan, minimal kita aman masalah pangan," ujarnya.

Harga minyak jenis Brent melonjak hingga 20% ke posisi US$111,04 per barel pada pembukaan perdagangan, sementara West Texas Intermediate (WTI) melambung hingga 22%. Uni Emirat Arab dan Kuwait telah mulai mengurangi produksi karena fasilitas penyimpanan mereka terisi penuh dengan cepat akibat penutupan Selat Hormuz. Langkah serupa telah dilakukan Irak yang mulai menghentikan sebagian produksinya sejak pekan lalu.

CEO Institute for Essential Services Reform (IESR) Fabby Tumiwa menjelaskan bahwa risiko energi Indonesia terbilang cukup besar saat ini di tengah perang Iran yang masih berkecamuk.

Menurutnya, ada tiga penyebab mengapa energi Indonesia begitu rentan. Pertama, cadangan energi RI disebut Fabby terlalu sedikit. Sebelumnya, Bahlil mengklaim seluruh stok minyak mentah, BBM, dan LPG berada di atas standar minimum nasional, yakni 21 hari.

"Cadangan kita yang disebut oleh Menteri ESDM, cadangan strategis untuk 20 hari, itu terlalu sedikit ya kalau kita mempertimbangkan potensi perang ini bisa lebih lama. Untuk bisa memenuhi kebutuhan Indonesia, kalau minyak itu kan 1,7 juta barel per hari, kalau LPG itu kira-kira 8 juta ton per tahun dibagi 365 itu kira-kira berapa gitu ya. Nah, itu yang pertama," jelasnya.

Kedua, lanjut Fabby, produksi minyak domestik mungkin hanya mampu memenuhi 50%—60% dari total kebutuhan, sedangkan ketergantungan minyak cukup tinggi.

"Sehingga ketergantungan dari impornya tinggi itu juga bikin rentan," ujarnya.

Berdasarkan data Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), diketahui lifting minyak bumi tahun 2025 mencapai 605,3 ribu barel per hari (bph). Sementara itu, konsumsi BBM bulanan mencapai sekitar 1,3 juta bph.

Pakar strategi transisi energi ini mengungkap penyebab ketiga ialah kerentanannya itu sendiri. Risiko energi Indonesia itu sendiri berasal dari komposisi bauran energi, yang masih didominasi oleh energi fosil.

"[Sebanyak] 80% energi Indonesia itu berasal dari energi fosil. Nah, salah satu yang perlu diwaspadai dengan energi fosil, harga energi fosil itu sangat dipengaruhi oleh tidak saja kondisi demand supply, tetapi juga kondisi geopolitik."

(dov/ros)

No more pages