“Struktur pasokan yang sangat terkonsentrasi ini berarti bahwa setelah penutupan Selat Hormuz, sumber bahan baku utama bagi proyek-proyek MHP Indonesia akan benar-benar terputus,” tulis SMM dalam risetnya, dikutip Senin (9/3/2026).
SMM memperkirakan per Januari 2026 bahwa sulfur menyumbang 41% dari biaya produksi MHP. Dengan begitu, jika harga sulfur meningkat gegara gangguan pasokan, biaya produksi bisa meningkat dan menekan margin keuntungan smelter nikel HPAL.
Lebih lanjut, SMM memprediksi Indonesia bakal bersaing dengan pembeli global untuk pasokan sulfur dari negara-negara di luar Timur Tengah yang pasokannya cukup terbatas.
Selain itu, kenaikan premi asuransi dan meningkatnya biaya pengiriman akibat pengalihan rute akan makin mendongkrak landed cost atau total biaya logistik.
“Jika harga sulfur terus naik akibat gangguan pasokan, biaya sulfur dalam produksi MHP juga akan meningkat, menekan margin keuntungan proyek,” tulis SMM.
Adapun, sekitar 50% pasokan sulfur dunia atau sekitar 20 juta ton per tahun berasal dari wilayah Teluk Persia di Timur Tengah.
Negara-negara eksportir utama meliputi Arab Saudi, Uni Emirat Arab (UEA), Qatar, Kuwait, dan Iran. Sulfur yang berasal dari negara tersebut harus melewati Selat Hormuz untuk mencapai pasar global.
SMM mencatat pelabuhan ekspor sulfur utama di Timur Tengah, antara lain; Ruwais di UEA, Jubail dan Ras al-Khair di Arab Saudi, Ras Laffan di Qatar, Al Zour dan Shuaiba di Kuwait, dan Bandar Imam Khomeini di Iran harus mengangkut komoditas tersebut melewati Teluk Persia kemudian melalui Selat Hormuz.
Dengan begitu, penutupan Selat Hormuz membuat pasokan sulfur dari pelabuhan tersebut tak dapat dimuat dan diekspor.
Lebih lanjut, lebih dari 75% impor sulfur Indonesia pada 2025 berasal dari Timur Tengah. Sulfur tersebut banyak dimanfaatkan untuk industri pengolahan nikel utamanya smelter hidrometalurgi berbasis HPAL.
Pada 2025, Arab Saudi menjadi pemasok terbesar sekitar 1,76 juta ton, Qatar sebanyak 967.000 ton, UEA 918.000 ton, Kanada 515.000 ton, Kuwait 366.000 ton, Malaysia 146.000 ton, dan Singapura sebesar 115.000 ton.
“Lebih dari 75% impor belerang Indonesia pada2025 berasal dari Timur Tengah. Struktur pasokan yang sangat terkonsentrasi ini berarti bahwa setelah penutupan Selat Hormuz, sumber bahan baku utama untuk proyek MHP Indonesia akan terputus,” tulis SMM.
Meskipun begitu, SMM menyatakan terdapat beberapa opsi rute yang bisa ditempuh oleh para eksportir tersebut, tetapi rute tersebut sulit dilalui kapal tanker dengan pasokan besar.
Pertama, pelabuhan Fujairah di UAE. Pelabuhan tersebut terletak di luar selat di Teluk Oman, tetapi jauh dari kawasan produksi di Teluk Persia.
Lalu, biaya transportasi darat akan lebih tinggi dan kapasitas terbatas, serta sulit memprioritaskan pengiriman sulfur dari lokasi tersebut dalam jumlah besar ketika kondisi krisis.
Kedua, pelabuhan Laut Merah di Arab Saudi. Sulfur dapat diangkut melalui darat ke Pelabuhan Yanbu, tetapi transportasi darat memiliki jarak yang jauh dan biaya yang dikeluarkan berpotensi lebih mahal.
Pada 2025, sulfur freight on board (FoB) Timur Tengah tercatat sekitar dari sekitar US$170 per dan saat ini telah mengalami kenaikan harga ke level US$520 per metrik ton atau mengalami peningkatan lebih dari 200%.
(azr/wdh)





























