Harga minyak jenis Brent melonjak hingga 20% ke posisi US$111,04 per barel pada pembukaan perdagangan, sementara West Texas Intermediate (WTI) melambung hingga 22%.
Uni Emirat Arab dan Kuwait juga mulai mengurangi produksi karena fasilitas penyimpanan mereka terisi penuh dengan cepat akibat penutupan Selat Hormuz.
Langkah serupa telah dilakukan Irak yang mulai menghentikan sebagian produksinya sejak pekan lalu. Serangan juga memaksa kilang minyak terbesar Arab Saudi, Aramco, ditutup.
Arab Saudi juga telah menaikkan harga minyak mentah utamanya Arab Light sebesar US$2,50/barel bagi pembeli di Asia untuk periode April. Angka ini merupakan kenaikan terbesar sejak Agustus 2022.
Berikut negara-negara Asia yang melakukan mitigasi krisis energi:
1. China Larang Ekspor
Pemerintah China memerintahkan kilang minyak terbesar di negaranya untuk menangguhkan ekspor solar dan bensin.
Terlebih, konflik yang makin memanas di Teluk Persia mengganggu pasokan minyak mentah dari salah satu wilayah produsen terbesar di dunia.
Pejabat dari Komisi Pembangunan dan Reformasi Nasional (NDRC), badan perencana ekonomi utama negara, bertemu dengan para eksekutif kilang dan secara lisan meminta penangguhan selagi pengiriman produk olahan akan dimulai segera, menurut sumber yang mengetahui hal tersebut.
Mereka meminta agar identitasnya tidak disebutkan karena diskusi tersebut tidak bersifat publik.
Kilang-kilang tersebut diminta untuk berhenti menandatangani kontrak baru dan untuk menegosiasikan pembatalan pengiriman yang telah disepakati. Pengecualian diberikan untuk bahan bakar jet dan bunker yang disimpan di gudang berikat dan pasokan ke Hong Kong dan Makau.
2. Jepang Batalkan Ekspor
Di Jepang, setidaknya satu kilang mulai membatalkan ekspor solar, bahan bakar jet, dan bensin untuk Maret, kata sumber Bloomberg News yang mengetahui rencana tersebut dan meminta namanya tidak disebutkan karena informasi tersebut sensitif.
3. Vietnam Buka Gembok Impor
Vietnam akan menghapus tarif impor bahan bakar minyak (BBM) dan mempermudah perusahaan raksasa negara PetroVietnam untuk membeli dan menjual minyak mentah dan produk minyak, seiring dengan meluasnya perang di Timur Tengah yang meningkatkan kekhawatiran akan keamanan energi.
Pemerintah Vietnam mengatakan pada Jumat pekan lalu bahwa pasokan domestik tetap "pada dasarnya aman" untuk saat ini, tetapi memperingatkan bahwa jika konflik berlanjut hingga April, "pasar mungkin akan menghadapi lebih banyak kesulitan."
Pemerintah setempat juga berupaya memprioritaskan minyak mentah untuk kilang lokal guna memenuhi permintaan domestik, dan telah meminta Kementerian Perindustrian dan Perdagangan Vietnam untuk mengambil langkah proaktif guna memastikan pasokan yang memadai.
Pelonggaran beberapa kontrol dan sistem kuota impor di sekitar PetroVietnam — yang secara resmi bernama Vietnam National Industry–Energy Group — akan memberikan perusahaan lebih banyak fleksibilitas untuk menyeimbangkan pasokan dan permintaan, menurut Pham Luu Hung, kepala ekonom di SSI Securities Corp.
4. Taiwan Batasi Harga BBM
Taiwan telah menetapkan batasan mingguan untuk kenaikan harga minyak sebagai upaya untuk melindungi perekonomian dari dampak perang di Timur Tengah, menurut Commercial Times.
Surat kabar yang berbasis di Taipei itu melaporkan batasan tersebut pada Senin, mengutip Perdana Menteri Cho Jung-tai dan pejabat yang tidak disebutkan namanya.
Cho sebelumnya mengatakan kepada wartawan pada Minggu bahwa Taiwan telah mengaktifkan mekanisme stabilisasi harga untuk menyerap kenaikan harga minyak.
Hal itu terjadi setelah Kementerian Urusan Ekonomi mengatakan sehari sebelumnya bahwa harga bahan bakar domestik hanya akan naik sekitar 5% pekan ini.
5. Myanmar Berlakukan Ganjil Genap
Pemerintah militer Myanmar memberlakukan pembatasan pada kendaraan pribadi mulai Sabtu untuk menghemat bahan bakar karena gangguan pada jalur pelayaran Timur Tengah mengancam pasokan energi negara tersebut.
Menurut Dewan Pertahanan dan Keamanan Nasional yang berkuasa, mobil dan sepeda motor pribadi—kecuali kendaraan listrik—hanya akan diizinkan di jalan setiap dua hari sekali berdasarkan nomor pelatnya, dengan pelat bernomor genap beroperasi pada tanggal genap dan pelat bernomor ganjil pada tanggal ganjil.
"Konflik bersenjata di Timur Tengah telah menyebabkan hambatan dan blokade di sepanjang lalu lintas maritim yang digunakan untuk mengimpor bahan bakar oleh kapal tanker minyak," kata dewan tersebut dalam pernyataan pada Rabu.
Namun, juru bicara junta, Mayor Jenderal Zaw Min Tun, mengatakan dalam pernyataan bahwa pemberitahuan tersebut bukan berarti Myanmar kekurangan cadangan bahan bakar, menambahkan bahwa langkah tersebut dikeluarkan sebagai tindakan pencegahan untuk mempersiapkan kemungkinan gangguan jangka panjang dan untuk memastikan penggunaan bahan bakar yang lebih sistematis.
6. Korsel Ikut Taiwan
Presiden Korea Selatan Lee Jae Myung mendesak agar batas harga bahan bakar segera diberlakukan, seiring upaya pemerintah untuk mengendalikan lonjakan biaya energi akibat eskalasi konflik di Timur Tengah.
Pemerintah harus "segera memperkenalkan dan secara tegas menerapkan sistem batas harga bahan bakar maksimum" untuk menekan kenaikan harga yang berlebihan, kata Lee kepada para pejabat dalam rapat ekonomi darurat pada Senin.
Pernyataan Lee muncul saat harga minyak global melonjak mendekati US$120 per barel, level tertinggi sejak 2022, di tengah risiko pasokan yang meningkat. Pemasok minyak di Timur Tengah telah mengurangi produksi, Selat Hormuz tetap tertutup secara efektif, dan AS mengancam akan meningkatkan konflik yang telah mengguncang pasar energi.
Korea Selatan mengimpor hampir seluruh pasokan energinya, dengan sekitar 70% muatan minyak biasanya dikirim melalui selat vital tersebut. Langkah untuk memberlakukan batas harga—yang pertama kali diterapkan dalam hampir 30 tahun—merupakan bagian dari upaya yang lebih luas untuk menstabilkan pasar energi domestik di tengah ketegangan geopolitik yang mengganggu rantai pasokan.
7. Thailand Susul China
Thailand juga mengatakan akan menangguhkan ekspor bahan bakar. Pengolah lain di Asia sedang mempertimbangkan untuk mengurangi produksi. Pabrik di China dan Jepang kemungkinan besar akan melakukannya.
(ros/wdh)





























