“Bank Indonesia akan terus berada di pasar untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah dan mencegah dampak dari eskalasi konflik di Timur Tengah,” sebut Deputi Gubernur Senior BI Destry Damayanti dalam pernyataan pekan lalu.
BI, lanjut Destry, akan terus menerapkan intervensi yang tegas dan konsisten di pasar Non-Deliverable Forwards (NDF), Domestic NDF (DNDF). spot, dan pasar obligasi. Destry menegaskan bahwa pelemahan rupiah sejalan dengan mata uang kawasan dan cadangan devisa tetap kuat di US$ 154,6 miliar per akhir Januari.
Penyebab Pelemahan Mata Uang Asia
Hari ini, mata uang Asia lesu akibat lonjakan harga minyak. Pada pukul 14:20 WIB, harga minyak jenis brent melesat 15,35% ke US$ 106,9/barel, tertinggi sejak 2022.
“Perkiraan inflasi dan pertumbuhan ekonomi dunia akan terdampak, dengan investor menyesuaikan ekspektasi mereka ke lingkungan yang lebih keras. Ini membuat aset-aset menjadi bearish,” tegas Garfield Reynolds, MLIV Team Leader di Bloomberg.
Jun Bei Liu, Co-Founder dan Lead Portfolio Manager di Ten Cap Investment, menilai saat ini investor sedang memasang mode defensif. Pelaku pasar enggan berspekulasi di aset-aset berisiko, terutama di negara-negara berkembang.
“Orang-orang sedang defensif, mencoba mengetahui berapa lama perang di Timur Tengah akan berlangsung. Investor cemas terhadap apa yang akan terjadi terhadap perekonomian global jika harga minyak terus bertahan di level sekarang,” kata Jun dalam wawancara dengan Bloomberg TV.
(red)




























