Logo Bloomberg Technoz

Hanya saja, PGAS belakangan mengajukan force majeure terkait pelaksanaan kontrak LNG tersebut pada 3 November 2023. 

Dalam sengketa di London itu, PGAS menunjuk Mayer Brown sebagai konsultan hukum. Pada periode Oktober hingga Desember 2025, proses arbitrase telah masuk ke tahapan document production antara PGAS dan Gunvor.

Mengutip laporan keuangan perseroan yang berakhir Desember 2025, PGAS mencadangkan provisi LNG terkait sengketa dengan Gunvor mencapai US$72,02 juta atau sekitar Rp1,2 triliun.

“Perusahaan mengakui nilai yang lebih rendah antara estimasi nilai manfaat ekonomis dibandingkan dengan estimasi ganti rugi sebagai provisi,” seperti dikutip dari laporan keuangan PGAS, Senin (9/3/2026).

Adapun, PGAS telah menerbitkan final annual delivery program tahun 2026 yang berisi informasi pelaksanaan MSPA dan CN dengan Gunvor masih terhambat dan tertunda akibat kondisi force majeure sampai saat ini.

Bloomberg Technoz telah meminta konfirmasi terkait dengan perkembangan sengketa LNG itu ke Direktur Strategi dan Pengembangan Bisnis PGAS Mirza Mahendra dan Sekretaris Perusahaan PGAS Fajriyah Usman. Hanya saja permohonan konfirmasi belum ditanggapi sampai berita tayang.

Permohonan konfirmasi yang sama juga dilayangkan ke Gunvor Singapore Pte Ltd lewat surat elektronik atau e-mail perusahaan. Permohonan konfirmasi belum ditanggapi.

Laba Anjlok

PGAS mencatat laba laba bersih US$215,36 juta atau sekitar Rp3,6 triliun sepanjang 2025.

Laba bersih itu anjlok 36,55% dibandingkan dengan torehan sepanjang 2024 sebesar US$339,42 juta atau sekitar Rp5,48 triliun.

Mengutip laporan keuangan perseroan, PGAS mencatat pendapatan sebesar US$3,97 miliar atau sekitar Rp66,48 triliun sepanjang 2025.

Torehan pendapatan  itu naik 4,94% dari posisi tahun sebelumnya sebesar US$3,78 miliar atau sekitar Rp61,21 triliun.

Di sisi lain, beban pokok pendapatan PGAS turut bergerak naik ke level US$3,27 miliar pada 2025 dari posisi beban tahun sebelumnya sebesar US$3,03 miliar.

Sepanjang 2025, PGAS mencatat volume niaga gas bumi sebesar 836 BBTUD. Sementara volume transmisi gas bumi naik 4% menjadi 1.609 MMSCFD dibandingkan tahun sebelumnya, seiring meningkatnya penyerapan pelanggan.

Kinerja operasional juga belakangan diperkuat segmen bisnis infrastruktur LNG.

Volume regasifikasi melalui FSRU Lampung dan Terminal Regasifikasi Arun mencapai 254 BBTUD, tumbuh 17% dan berkontribusi pada keandalan penyaluran gas untuk berbagai sektor, termasuk industri dan pembangkit listrik.

Di sisi lain, total liabilitas PGAS sampai akhir 2025 mencapai US$2,62 miliar, berasal dari liabilitas jangka pendek US$1,16 miliar dan liabilitas jangka panjang U$1,45 miliar.

Adapun, total aset PGAS bergerak ke level US$6,23 miliar, berasal dari aset lancar sebesar US$2,07 miliar dan aset tidak lancar US$4,15 miliar. Sementara itu, PGAS mencatat ekuitas neto sebesar US$3,6 miliar sampai akhir 2025.

(naw)

No more pages