Logo Bloomberg Technoz

Melemahnya sejumlah bursa saham Asia imbas konflik Timur Tengah yang makin memanas. Eskalasi perang antara Iran melawan Amerika Serikat (AS) dan Israel memasuki hari ke–10 tanpa ada tanda–tanda mereda. 

Seperti yang dilaporkan Bloomberg News, di tengah kecamuk tersebut, Iran resmi menunjuk Mojtaba Khamenei sebagai Pemimpin Tertinggi baru. Kantor berita Fars menyebut, pada Minggu, Mojtaba Khamenei (56) terpilih melalui "pemungutan suara yang menentukan" oleh Majelis Ahli Iran. 

Sementara itu, Presiden AS Donald Trump dilaporkan tengah mempertimbangkan pengiriman pasukan khusus ke daratan Iran untuk menyita stok uranium yang mendekati level senjata nuklir. "Kami belum melakukannya, tapi itu adalah sesuatu yang bisa kami lakukan nanti," sebut Trump kepada jurnalis di atas pesawat Air Force One, mengutip Bloomberg News.

Ketegangan di Timur Tengah memantik lumpuhnya Selat Hormuz, jalur yang melayani seperlima ekspor energi dunia. Terlebih lagi, Kuwait dan Uni Emirat Arab (UEA) mulai memangkas produksi karena tangki penyimpanan mereka penuh akibat kapal tanker yang tidak bisa melintas. Irak pun telah lebih dulu menghentikan produksinya pada minggu lalu.

Uni Emirat Arab, yang memproduksi lebih dari 3,5 juta barel minyak per hari sebagai produsen terbesar ketiga di OPEC pada Januari, mulai memangkas produksi minyak di ladang lepas pantainya. Kuwait, produsen terbesar kelima OPEC, juga mengurangi produksi minyak mentah dan kilangnya dengan alasan “agresi yang terus berlangsung” dari Iran.

Lonjakan harga minyak, kekhawatiran inflasi akibat gangguan pengiriman, serta memanasnya konflik tersebut, menjadi penyebab utama bergugurannya IHSG dan bursa saham Asia. 

Terlebih lagi bila inflasi terus merangsek naik, kondisi ini memperbesar peluang Bank Sentral AS atau Federal Reserve (The Fed) untuk mempertahankan suku bunga tinggi lebih lama, atau bahkan menaikkannya. 

Krisis yang semakin memanas ini membuat investor terjebak di antara risiko inflasi baru akibat lonjakan harga minyak.

“Ini bukan lagi sekadar penutupan Selat Hormuz, melainkan gangguan pasokan yang merambah lebih dalam ke kawasan tersebut,”  papar Dave Mazza, CEO Roundhill Financial.

“Pergeseran inilah yang memicu para investor yang sudah cemas untuk segera menarik modal mereka dari aset berisiko.”

(fad/aji)

No more pages