Logo Bloomberg Technoz

Pergerakan harga minyak dunia juga tak lepas dari kembali meningkatnya tensi geopolitik di Timur Tengah. Perang antara AS dan Israel vs. Iran belum menunjukkan tanda–tanda mereda setelah serangan seminggu lalu.

Terhentinya pengiriman melalui Selat Hormuz—jalur air sempit yang biasanya menangani seperlima pasokan minyak dunia—serta serangan terhadap infrastruktur energi telah mendorong harga minyak mentah ke puncak tertingginya.

Berikut pergerakan saham migas di BEI:

  1. PT Rukun Raharja Tbk (RAJA) jatuh 5,3% ke posisi Rp3.570
  2. PT Energi Mega Persada Tbk (ENRG) melemah 1,36% ke posisi Rp1.800
  3. PT AKR Corporindo Tbk (AKRA) hijau 0,39% ke posisi Rp1.260
  4. PT Apexindo Tbk (APEX) menguat terbatas 0,86% ke posisi Rp234
  5. PT Elnusa Tbk (ELSA) berhasil menguat 1,17% di posisi Rp860
  6. PT Medco Energi Internasional Tbk (MEDC) menguat 2,26% ke posisi Rp1.805

Padahal, sejatinya kenaikan harga minyak mentah dunia ini akan mendatangkan keuntungan untuk emiten–emiten perminyakan dan/atau yang terkait dengan bisnis minyak, termasuk distribusinya. Utamanya mereka yang sahamnya tercatat di BEI.

Dalam jangka menengah, harga maupun permintaan emas masih berpeluang melanjutkan tren kenaikan, sejalan dengan perang di Timur Tengah yang sudah memasuki hari ke–10 dan tanpa ada tanda-tanda mereda.

“Negara–negara di Teluk Persia tersebut memangkas produksi karena kehabisan ruang untuk menyimpan sementara minyak mentah yang sudah ada tidak dapat di ekspor karena penutupan Selat Hormuz,” papar Phillip Sekuritas Indonesia, dalam riset terbarunya Senin.

Kapal–kapal tanker enggan melintasi Selat Hormuz karena khawatir Iran akan menyerang mereka. Mencapai 20% konsumsi minyak dunia diekspor melalui Selat Hormuz.

Jika mencermati terhadap kacamata analisis teknikal, mengutip riset Panin Sekuritas, ada kemungkinan harga minyak bisa naik lagi menuju US$ 119,8/barel. Apabila level resistance ini berhasil tertembus dengan volume yang tinggi, maka resistance potensial harga minyak selanjutnya menuju rentang US$ 134,65-147,50/barel.

Namun perlu diperhatikan, target support terdekat ada di US$ 98,66/barel. Jika tertembus, maka US$ 95,91/barel bisa menjadi support selanjutnya.

(fad/aji)

No more pages