Target iklim baru ditetapkan bersamaan dengan serangkaian kebijakan guna mempertahankan pertumbuhan ekonomi sebesar 4,5% hingga 5%, mendorong konsumen untuk lebih banyak berbelanja, dan meningkatkan kemampuan negara dalam teknologi canggih—tujuan yang dianggap kompatibel dengan percepatan transisi hijau oleh para pemimpin negara.
China juga menunjukkan "komitmennya sebagai negara besar yang bertanggung jawab," dengan menetapkan target iklim hingga 2035 dalam laporan yang diajukan ke PBB tahun lalu. Para kritikus berpendapat bahwa strategi tersebut, yang menjanjikan pengurangan emisi gas rumah kaca total sebesar 7% hingga 10%, terlalu mudah dicapai.
Tindakan selama lima tahun ke depan akan krusial dalam menentukan apakah China memenuhi tenggat waktu emisi Xi dan berada di jalur yang tepat untuk mencapai net zero pada 2060. Seberapa cepat dan agresif negara ini dapat mulai mengurangi jejak iklimnya yang besar sangat penting bagi prospek dunia dalam membatasi dampak pemanasan global.
China menyumbang sekitar 29% polusi gas rumah kaca pada 2024, dibandingkan dengan 11% yang disumbangkan oleh AS—negara peringkat kedua. Sejak itu, AS telah mencabut kebijakan iklim atas perintah Presiden Donald Trump dan emisi sedikit meningkat tahun lalu, menurut analisis Rhodium Group.
Laporan yang diterbitkan oleh kementerian-kementerian China mencakup komitmen di berbagai bidang, termasuk janji untuk memberikan dukungan lebih lanjut bagi kendaraan listrik dan manufaktur hijau, melanjutkan penerbitan obligasi hijau negara, serta meningkatkan sanksi atas pelanggaran undang-undang lingkungan.
Ada tanda-tanda kemajuan baru-baru ini di China. Emisi karbon diperkirakan turun 0,3% pada 2025, penurunan pertama sejak pembatasan era Covid, menurut Pusat Penelitian Energi dan Udara Bersih (CREA) bulan lalu.
Adopsi energi terbarukan yang memimpin dunia berarti China kini memenuhi konsumsi listrik yang terus meningkat tanpa perlu membakar lebih banyak batu bara di pembangkit listrik, sementara lonjakan drastis kendaraan listrik (EV) telah mengurangi permintaan bahan bakar transportasi.
Meski demikian, tren emisi China dalam beberapa tahun mendatang masih dipertanyakan. Pasalnya, negara tersebut terus membangun pembangkit listrik tenaga batu bara baru dan pabrik kimia yang intensif karbon.
Target intensitas emisi karbon baru—mencakup target pengurangan sebesar 3,8% tahun ini—mungkin dihitung menggunakan metodologi yang berbeda dari sebelumnya. Pada Sabtu, Biro Statistik Nasional China (CSB) mengatakan mereka memasukkan emisi dari sektor energi dan proses industri dalam metodologinya, sedangkan pada tahun-tahun sebelumnya mereka tidak spesifik menyebut sumber emisi.
Secara eksplisit memasukkan polusi industri akan memungkinkan China mencatat pengurangan emisi dari penurunan drastis produksi semen akibat krisis properti.
Dengan menggunakan metodologi sebelumnya, CREA bulan lalu menghitung bahwa China telah mengurangi intensitas emisinya sekitar 12% dari 2021 hingga 2025. Laporan pemerintah pada Kamis menyatakan bahwa China telah mencapai pengurangan sebesar 17,7%.
Perbedaan tersebut signifikan untuk menentukan skala tantangan China dalam memenuhi komitmen berdasarkan Perjanjian Paris untuk mengurangi intensitas emisi sebesar 65% pada 2030 dibandingkan dengan tingkat 2005.
Dengan metodologi sebelumnya, CREA memperkirakan China perlu mencapai penurunan sebesar 23% dalam lima tahun ke depan, sedangkan pemerintah bersikeras strategi barunya akan memungkinkan China mencapai target Paris.
(bbn)





























