Lalu Bagaimana peringkat Indonesia di mata Lembaga Pemeringkat lainnya? Berikut pemaparannya.
1. Moody's
Lembaga pemeringkat global asal Amerika Serikat, Moody’s Investors Service, menurunkan outlook terhadap pasar surat utang Indonesia. Meski demikian, lembaga tersebut tetap mempertahankan peringkat utang Indonesia pada level layak investasi atau investment grade.
Pada Kamis (5/2/2026), Moody’s dalam keterangan tertulisnya mengumumkan bahwa outlook Indonesia diubah dari stabil menjadi negatif.
“Perubahan ini mencerminkan kebijakan yang makin sulit ditebak, kekhawatiran terhadap tata kelola, dan meningkatnya ketidakpastian yang bisa mempengaruhi kepercayaan investor,” tegas keterangan Moody’s.
Moody’s menilai jika tren tersebut terus berlanjut, kondisi itu berpotensi menggerus keyakinan terhadap kredibilitas kebijakan Indonesia yang telah lama dibangun. Padahal, kredibilitas tersebut menjadi fondasi bagi pertumbuhan ekonomi yang solid serta stabilitas makroekonomi dan sistem keuangan.
Meski demikian, Moody’s tetap mempertahankan peringkat utang Indonesia pada level Baa2, yang berarti Indonesia masih berada dalam kategori investment grade.
2. Standard and Poor’s
Lembaga pemeringkat global Standard & Poor’s (S&P) menyampaikan pembaruan terkait profil kredit Indonesia pada 29 Juli 2025 lalu dengan menegaskan kembali peringkat surat utang pemerintah dalam mata uang asing pada level BBB. Peringkat tersebut masih berada dalam kategori investment grade, tepatnya satu tingkat di atas batas terendah kelas tersebut.
S&P juga menilai terdapat kemungkinan penurunan peringkat apabila defisit Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) melampaui ambang batas 3% terhadap Produk Domestik Bruto (PDB). Risiko serupa juga dapat muncul jika beban pembayaran bunga utang pemerintah meningkat hingga melampaui 15% dari total penerimaan negara.
Meski demikian, S&P memperkirakan pemerintah masih mampu mempertahankan disiplin fiskal. Dalam proyeksinya, defisit APBN diperkirakan tetap berada di bawah batas 3% PDB dalam tiga tahun ke depan, meskipun pengeluaran negara untuk bantuan sosial diperkirakan tetap tinggi.
“Outlook stabil mencerminkan ekspektasi kami bahwa pemerintah terus menaati batas atas defisit anggaran 3% PDB sebagai jangkar,” sebut S&P dalam keterangannya.
Di sisi lain, S&P menilai perkembangan sektor industri yang berbasis sumber daya alam akan menjadi salah satu penopang stabilitas perekonomian Indonesia dalam dua hingga tiga tahun ke depan.
3. Japan Credit Rating Agency
Lembaga pemeringkat asal Jepang, Japan Credit Rating Agency, Ltd. (JCR) melakukan pembaruan terhadap rating Indonesia pad 22 September 2025 lalu dengan kembali menegaskan peringkat utang atau Sovereign Credit Rating Indonesia pada level BBB+ dengan prospek stabil.
Peringkat tersebut menempatkan Indonesia dalam kategori investment grade, atau dua tingkat di atas batas terendah kelas tersebut sebagaimana juga ditetapkan pada 25 Maret 2024.
Dari sisi pertumbuhan, JCR memperkirakan ekonomi Indonesia masih mampu tumbuh di kisaran 5% dan diproyeksikan tetap berada pada level serupa dalam jangka menengah.
Sementara itu, dari sisi fiskal dan eksternal, kredibilitas kebijakan fiskal dinilai tetap terjaga dengan defisit anggaran yang berada di kisaran 2,3–2,5% terhadap PDB serta rasio utang pemerintah di bawah 40%.
Meski defisit transaksi berjalan diperkirakan meningkat secara bertahap, ketahanan eksternal Indonesia dinilai tetap kuat berkat arus investasi langsung yang positif serta cadangan devisa yang masih tinggi.
4. Rating and Investment Information
Lembaga pemeringkat Rating and Investment Information, Inc. (R&I) kembali menegaskan peringkat utang atau Sovereign Credit Rating (SCR) Indonesia pada level BBB+ dengan prospek stabil per 24 Oktober 2025.
Peringkat tersebut menempatkan Indonesia dua tingkat di atas batas terendah kategori investment grade, yang menunjukkan risiko gagal bayar relatif rendah.
Dalam penilaiannya, R&I menilai kondisi makroekonomi Indonesia masih terjaga. Hal ini tercermin dari inflasi yang relatif stabil, rasio utang pemerintah yang tetap rendah, serta kebijakan moneter dan fiskal yang dinilai prudent.
Meski demikian, R&I menilai langkah pemerintah untuk mendorong pertumbuhan ekonomi tetap perlu dicermati lebih lanjut. Terutama dalam memastikan upaya tersebut tetap sejalan dengan upaya menjaga kesehatan fiskal dalam jangka menengah.
Posisi Peringkat Utang Terakhir Indonesia
| Lembaga Pemeringkat Utang | Peringkat Utang | Outlook | Tanggal Update |
|---|---|---|---|
| Fitch | BBB | Negatif | 4 Maret 2026 |
| Moody’s | Baa2 | Negatif | 5 Februari 2026 |
| S&P | BBB | Stable | 29 Juli 2025 |
| Japan Credit Rating Agency | BBB+ | Stable | 22 September 2025 |
| Rating & Investment | BBB+ | Stable | 24 Oktober 2025 |
(ell)





























