“Selain meningkatkan produksi, kegiatan ini juga menunjukkan efisiensi biaya dan waktu. Praktik baik seperti ini perlu direplikasi di lapangan lain untuk mempercepat pencapaian target lifting nasional serta memperkuat ketersediaan energi,” ujar Djoksis.
Dia menyatakan seluruh pekerjaan dilakukan tanpa menggunakan rig atau rigless, dengan memanfaatkan unit wireline. Dari sisi anggaran, realisasi biaya dilaporkan sekitar 57% dari total anggaran yang telah disetujui.
“Keberhasilan Well Services Sumur Banyu Urip A07 ini menegaskan bahwa strategi optimalisasi sumur eksisting merupakan langkah konkret dan cost-effective dalam menjaga momentum peningkatan lifting minyak nasional,” ujar Djoksis.
Sebelumnya, SKK Migas meminta jadwal penghentian sementara operasi atau planned shutdown Lapangan Banyu Urip, Blok Cepu ditunda tahun ini.
Djoksis mengatakan permintaan itu disampaikan kepada operator Blok Cepu, ExxonMobil Cepu Limited (ECML) terkait dengan upaya pemerintah menjaga capaian lifting 2025.
“Kami berharap dukungan Komisi XII untuk berbicara, kita bersama-sama dengan Exxon agar perawatan maitanence-nya ditunda di Januari 2026,” kata Djoksis saat rapat dengar pendapat (RDP) dengan Komisi XII, Selasa (1/7/2025).
Djoksis mengkhawatirkan perawatan sumur dari Lapangan Banyu Urip, yang awalnya direncanakan pada September 2025, bakal mengoreksi tren pemulihan lifting minyak nasional.
“Karena kalau dilakukan harus ditutup dulu semua produksinya sehingga turun semua itu produksinya,” kata Djoksis.
Dia berharap ECML bisa menggeser jadwal planned shutdown pada 2026, sembari menantikan realisasi lifting dari sumur masyarakat.
Berdasarkan hitung-hitungan SKK Migas, lifting dari Blok Cepu 2025 bakal bergerak ke level 155 ribu barel minyak per hari (bph) apabila jadwal planned shutdown dieksekusi September 2025.
Sementara itu, lifting minyak dari Blok Cepu diperkirakan bergerak ke level 161,7 ribu bph apabila jadwal planned shutdown digeser ke 2026.
Saat ini, operator blok Cepu tengah mendorong proyek Banyu Urip Infill Clastic (BUIC). Proyek ini menyasar perkiraan tambahan 42,92 juta barel minyak atau millions barrel oil (MMBO), melalui pengeboran tujuh sumur di Lapangan Banyu Urip, yakni lima sumur infill dan dua sumur clastic.
Lapangan Banyu Urip saat ini berkontribusi 25% atas raihan lifting nasional. SKK Migas memperkirakan Program BUIC dapat mengerek lifting sekitar 40 sampai 60 juta barel dengan rata-rata produksi 20.000 hingga 30.000 barel per hari.
Belakangan, ECML berhasil menyelesaikan pengeboran tujuh sumur sepanjang paruh pertama 2025. Dengan demikian, lifting minyak dari Blok Cepu bisa bergerak ke level 180 ribu bph memasuki semester II-2025.
(azr/ros)































