Dia mengungkapkan isu penutupan lini produksi atau smelter kerap terdengar setiap tahunnya, bahkan sebelum adanya rencana pemangkasan produksi bijih.
“Kan tahun lalu enggak ada pembatasan. [Lalu,] 2023 ada juga isu itu. Akan tetapi, ini momennya pas ada [isu] produksi dikendalikan itu. Jadi terus itunya jadi masuk ke isu itu. Namun, poinnya memang isu-isu itu mesti ada terus,” ujar Tri.
Sekadar catatan, Asosiasi Penambang Nikel Indonesia (APNI) sebelumnya membeberkan hingga kini terdapat tiga pabrik pemurnian nikel yang kolaps imbas kurangnya bahan baku di tengah pemangkasan RKAB 2026 hingga ketatnya persaingan smelter di Tanah Air.
Sebagai konteks, Sekretaris Umum APNI Meidy Katrin Lengkey mulanya membeberkan RKAB nikel periode 2026 sebanyak 260—270 juta ton otomatis akan mengurangi konsumsi bijih nikel atau ore di Tanah Air.
Secara bersamaan, terdapat isu pemutusan hubungan kerja (PHK) sebagai efek domino dari kebijakan pemangkasan RKAB oleh pemerintah yang ingin mengendalikan harga nikel lantaran kelebihan pasokan atau oversupply nikel.
Meidy menuturkan APNI hingga kini belum menghitung secara terperinci ihwal dampak PHK tersebut, khususnya bagi pekerja smelter nikel.
Akan tetapi, dia mengungkapkan sudah ada tiga smelter yang terdampak yakni PT Huadi Nickel Alloy Indonesia (HNAI) di Bantaeng, Sulawesi Selatan; PT Wanxiang Nickel Indonesia di Morowali, Sulawesi tengah; dan PT Gunbuster Nickel Industry (GNI) di Morowali.
“[Sebanyak] 3 smelter sudah kami konfirmasi [kolaps]. Huadi shutdown total, Wanxiang tinggal 2 line, Gunbuster shutdown 5 line dari 20 line,” kata Meidy saat ditemui di sela diskusi RKAB di kantor DPN Apindo, Senin (2/3/2026).
Pada kesempatan yang sama, anggota Dewan Ekonomi Nasional (DEN) Septian Hario Seto menambahkan sejatinya sejumlah smelter di Indonesia tutup sebelum ada aturan pemangkasan RKAB. Dia menegaskan, jika RKAB tahun ini tidak dipangkas, maka akan lebih banyak smelter yang menjadi korban.
“Jadi kalau ini [pemangkasan RKAB] tidak dilakukan, mungkin akan bertambah lagi korbannya. Kami kan tentunya enggak bisa melihat apakah ini satu integrated, kami melihatnya kan keseluruhan dari industri,” tambah Seto.
Dalam perkembangannya, Meidy lantas mengoreksi pernyataannya sendiri pada Selasa (3/3/2026).
Dia menyebut smelter PT GNI akan melakukan perawatan atau servis terhadap 5 jalur produksi pada tahun ini. Kemudian, PT Huadi Nickel menghentikan produksi sejak akhir 2025. Lalu, PT Wanxiang telah melakukan penghentian beberapa jalur produksi sejak akhir 2025.
“Pernyataan tersebut adalah informasi operasional perusahaan dan tidak dikaitkan sebagai akibat langsung dari kebijakan RKAB,” kata Meidy dalam pernyataan terbarunya.
Industri smelter nikel, khususnya yang berbasis rotary kiln electric furnace (RKEF) atau pirometalurgi, di Indonesia selama ini sudah cukup tertekan karena dihadapkan pada isu kelebihan produksi sejak 2022. Oversupply tersebut diestimasikan terus berlanjut hingga 2029, bahkan 2030.
Beberapa pemain besar di sektor ini bahkan telah melakukan penyetopan lini produksi sementara sejak awal 2025 akibat margin yang makin menipis, bahkan mendekati nol, saat permintaan baja nirkarat China turun dan biaya produksi makin meningkat.
Sekadar catatan, sejak awal 2025, Gunbuster memang dikabarkan telah menyetop mayoritas dari lebih dari 20 lini produksinya. Berbagai narasumber menyebut Gunbuster telah menunda pembayaran pada pemasok sehingga tidak dapat memperoleh bijih nikel untuk diolah smelter-nya.
Selain akibat tekanan harga nikel yang terus turun, bisnis Gunbuster dikabarkan terimbas oleh kejatuhan induk usahanya di China, Jiangsu Delong, akibat gagal bayar utang.
Sementara itu, Huadi pada Juli 2025 dilaporkan telah menyetop seluruh kegiatan operasional smelter nikelnya sejak 15 Juli 2025. Di sisi lain, Huadi juga dilaporkan telah mem-PHK massal pekerja lebih dari 1.200 orang.
Tak hanya itu, PT Indonesia Tsingshan Stainless Steel (ITSS) serta PT Virtue Dragon Nickel Industry (VDNI) juga dilaporkan telah melakukan penyetopan sementara atau shutdown sebagian lini produksinya pada tahun lalu.
(azr/wdh)

























