Logo Bloomberg Technoz

Kejatuhan harga emas terjadi akibat penguatan nilai tukar dolar Amerika Serikat (AS). Kemarin, Dollar Index (yang mencerminkan posisi greenback di hadapan enam mata uang utama dunia) menguat 0,7% ke 99,072.

Indeks ini pun resmi menguat dua hari beruntun. Selama dua hari tersebut, Dollar Index terangkat 1,5%.

Emas adalah aset yang dibanderol dalam dolar AS. Ketika dolar AS terapresiasi, maka emas jadi lebih mahal buat investor yang memegang mata uang lain. Akibatnya, permintaan jadi turun dan harga pun mengikuti.

Investor juga memandang ruang pelonggaran moneter oleh Bank Sentral Federal Reserve akan terbatas tahun ini. Perang di Iran berisiko menyebabkan lonjakan harga energi, yang menyebabkan tekanan inflasi.

Pelaku pasar kini menilai The Fed mungkin hanya bisa menurunkan suku bunga acuan sekali sebanyak 25 basis poin sepanjang tahun ini. Sebelumnya, pasar memperkirakan setidaknya akan ada dua kali pemangkasan.

Mengutip CME FedWatch, peluang pemangkasan Federal Funds Rate hanya 25 bps pada 2026 mencapai 80%.

“Pasar cemas terhadap inflasi. Jika masalah harga minyak terus membayangi, maka akan menjadi tekanan bagi pertumbuhan ekonomi,” kata Bhanu Baweja, Chief Strategist di UBS, seperti dinukil dari Bloomberg News.

Emas adalah aset yang tidak memberikan imbal hasil (non-yielding asset). Ketika suku bunga tidak turun drastis, maka memegang emas menjadi terasa kurang menguntungkan.

(aji)

No more pages