Sebagaimana diketahui, BPS melaporkan neraca perdagangan barang Indonesia tercatat mengalami surplus US$950 juta pada Januari 2026. Artinya, ini merupakan surplus 69 bulan berturut-turut sejak Mei 2020.
Kendati demikian, nilai surplus jauh lebih sempit dibanding posisi surplus neraca perdagangan pada Desember 2025 yang mencapai US$2,51 miliar.
Detailnya, neraca perdagangan terutama ditopang oleh surplus pada komoditas nonmigas, yakni sebesar US$3,22 miliar. "Beberapa komoditas penyumbang surplus yakni, lemak dan minyak hewani/nabati, bahan bakar mineral, serta besi dan baja," ujar Ateng.
Pada saat yang sama, neraca perdagangan komoditas migas tercatat defisit US$2,27 miliar, dengan komoditas penyumbang defisit adalah minyak mentah dan hasil minyak, serta gas.
(lav)



























