Logo Bloomberg Technoz

Mengacu pada asumsi makro APBN 2026, harga minyak mentah Indonesia (ICP) dipatok di rentang US$70 per barel. Jika skenario analis menjadi kenyataan dan harga minyak melonjak hingga US$108 per barel, maka terdapat selisih sekitar US$38 dari batas asumsi dasar. 

Berdasarkan analisis sensitivitas asumsi makro terhadap APBN, setiap rata-rata ICP naik US$1 per barel dari asumsi, maka ada risiko defisit anggaran bertambah Rp6,8 triliun. Jadi kalau sampai rerata ICP sepanjang 2026 adalah US$108 barel, maka bisa membuat defisit APBN membengkak Rp258,4 triliun.

Angka ini masih bersifat ceteris paribus, artinya mengasumsikan bahwa faktor lain tidak berubah alias tetap. Padahal ada faktor lain seperti nilai tukar rupiah, juga laju inflasi, serta kenaikan imbal hasil obligasi. Jika faktor-faktor tersebut juga di atas asumsi dasar makro di APBN 2026, maka beban utang pun akan semakin meningkat. 

Dalam kondisi penuh tekanan eksternal seperti sekarang, kekuatan APBN 2026 agaknya akan sangat bergantung pada bagaimana pemerintah menjaga keuangan negara tetap sehat dengan menjaga beban subsidi energi tetap terkendali. 

Sebab, ketika harga minyak dunia naik, biaya yang harus dikeluarkan pemerintah untuk subsidi energi dan kompensasi otomatis akan ikut terkerek. 

(dsp/aji)

No more pages