Asosiasi tersebut tidak menjelaskan apa yang dimaksud dengan keadaan darurat tersebut.
Sebagian besar SPBU di negara itu dimiliki oleh perusahaan minyak nasional Petróleos de Venezuela SA dan dioperasikan oleh pengecer swasta. Beberapa dimiliki dan dioperasikan secara independen.
Deklarasi darurat baru ini dapat menambah tekanan pada Presiden sementara Delcy Rodríguez, yang mengambil alih kekuasaan pada awal Januari setelah penangkapan Nicolás Maduro oleh AS. Ekonomi Venezuela masih dilanda inflasi yang terus-menerus dan kekurangan dolar.
PDVSA meluncurkan harga eceran baru pada bulan Februari sebesar $1 per liter atau $3,7 per galon untuk bensin beroktan 97, sehingga harga lebih mendekati harga pasar. Hampir 30% pemilik SPBU menjual bensin bersubsidi dengan harga kurang dari 1 sen per liter, sementara sisanya dijual dengan harga $0,5 per liter.
Baik PDVSA maupun Kementerian Perminyakan tidak menanggapi permintaan komentar mengenai deklarasi darurat para pengecer.
Sejak 2020, Venezuela telah mempertahankan sistem subsidi ganda untuk bensin, yang membatasi pendapatan bagi pengecer.
Venezuela telah mensubsidi bensin selama beberapa dekade, memungkinkan pengemudi untuk mengisi tangki dengan harga lebih murah daripada biaya yang dikeluarkan PDVSA untuk memurnikan dan mendistribusikan pasokan. Kelangkaan bahan bakar adalah hal biasa, terutama di luar Caracas.
Upaya sebelumnya untuk menaikkan harga di SPBU telah menghadapi reaksi publik, yang paling dramatis terjadi dalam bentrokan mematikan tahun 1989 di Caracas. Setelah mengumumkan kenaikan harga enam tahun lalu, pemerintah mencabut kenaikan harga untuk solar, yang sangat penting bagi industri, perdagangan, dan pertanian.
(bbn)































