Dengan posisi permodalan tersebut, manajemen menilai perseroan memiliki ruang untuk meningkatkan rasio pembagian dividen dibandingkan dengan level historis. Langkah ini tidak hanya ditujukan untuk menjaga struktur permodalan yang optimal, tetapi juga sebagai bagian dari upaya memberikan nilai tambah yang berkelanjutan bagi para pemegang saham.
“Mempertimbangkan kondisi tersebut, setidaknya kami memiliki ruang untuk memberikan dividen dengan payout ratio yang lebih tinggi dibandingkan dengan level histori yang selama ini ada,” kata Hery.
Ia menambahkan, peningkatan dividen berpotensi mendorong imbal hasil bagi pemegang saham, termasuk peningkatan return on equity (ROE) perseroan.
“Jadi selain untuk menghasilkan kondisi permodalan yang optimal, langkah ini juga merupakan upaya kami untuk senantiasa memberikan nilai tambah yang berkelanjutan kepada para pemegang saham, termasuk juga nanti ROE ikut naik. Kalau misalnya dividennya lebih besar diberikan, return on equity BRI juga akan lebih tinggi,” ujarnya.
Sebagai latar belakang, BRI mencatat kinerja keuangan yang tetap positif sepanjang 2025. Pendapatan bunga konsolidasi meningkat 4,27% secara tahunan menjadi Rp207,78 triliun, sementara pendapatan bunga bersih tumbuh 5,50% menjadi Rp150,49 triliun. Jika digabungkan dengan pendapatan jasa asuransi, total pendapatan bersih konsolidasi BRI mencapai Rp151,79 triliun atau naik 5,54% dibandingkan tahun sebelumnya.
Adapun laba bersih konsolidasi BRI pada 2025 tercatat sebesar Rp57,13 triliun, meskipun turun dibandingkan capaian Rp60,31 triliun pada tahun sebelumnya.
(dhf)




























