Selain faktor pelemahan dolar AS secara global, ada dinamika regional yang mulai memberikan bantalan tambahan bagi pasar mata uang Asia, terutama di negara-negara dengan eksposur kuat terhadap siklus teknologi global.
"Dengan raksasa produsen chip Asia yang tengah menikmati gelombang AI dan menarik arus modal global baru, prospek penguatan lanjutan won Korea Selatan dan dolar Taiwan tetap terjaga di tengah tekanan penurunan yang kembali membayangi dolar," sebut laporan Bloomberg.
Terlebih, keputusan Bank of Korea yang menahan suku bunga di tengah revisi naik proyeksi inflasi turut memberikan sinyal kebijakan moneter yang relatif hawkish, menopang daya tarik aset berdenominasi won.
Di sisi lain, stabilisasi yuan oleh bank sentra China lewat penetapan kurs referensi harian (fixing) yang lebih kuat juga berkontribusi terhadap sentimen positif di kawasan. Menguatnya yuan secara efektif mempersempit ruang depresiasi bagi mata uang Asia lainnya yang berada dalam orbit perdagangan China, termasuk rupiah.
Bagi Indonesia, penguatan mata uang regional ini merupakan efek limpahan yang cukup signifikan, mengingat korelasi pergerakan rupiah dengan mata uang Asia cenderung meningkat dalam periode volatilitas dolar global.
Dari sisi domestik, ada sejumlah indikator yang juga memberikan fondasi penguatan tambahan bagi rupiah. Salah satunya adalah yield SBN yang masih kompetitif di kawasan, di tengah ekspektasi suku bunga global yang mulai mendatar. Sehingga aset berdenominasi rupiah betapapun risikonya tetap menjadi minat investor yang mengejar imbal hasil.
Meski, dari sisi fiskal masih mencatatkan defisit, posisi cadangan devisa yang dianggap tetap solid di atas ambang batas kecukupan impor juga memperkuat persepsi stabilitas eksternal Indonesia di mata investor global. Sehingga, rupiah hari ini ikut berpesta bersama mata uang Asia lainnya.
(dsp/aji)





























