Logo Bloomberg Technoz

Bursa Saham Asia lainnya berhasil menguat, Weighted Index (Taiwan), KOSPI (Korea Selatan), Shenzhen Comp. (China), KOSDAQ (Korea Selatan), CSI 300 (China), PSEI (Filipina), NIKKEI 225 (Jepang), Shanghai Composite (China), TOPIX (Jepang), Ho Chi Minh Stock Index (Vietnam), dan SETI (Thailand).

Di sisi berseberangan, Hang Seng (Hong Kong), SENSEX (India), Straits Times (Singapura) dan KLCI (Malaysia), yang melemah dan drop pada perdagangan siang hari ini.

Sentimen variatifnya Bursa Saham Asia dipengaruhi oleh teka–teki tarif dagang AS. Setelah Mahkamah Agung (MA) membatalkan tarif "timbal balik" Presiden AS Donald Trump pada Jumat lalu, Gedung Putih mengumumkan rencana untuk menggantinya dengan tarif baru sebesar 15% secara menyeluruh untuk impor AS. 

Menanggapi parahnya ketidakpastian ini, Uni Eropa membekukan proses ratifikasi kesepakatan dagangnya dengan AS.

Beragamnya pasar saham juga tersengat sentimen kehati-hatian terhadap Deputi Gubernur Federal Reserve Christopher Waller yang sebelumnya menyatakan keputusan suku bunga acuan Federal Funds Rate (FFR) pada bulan Maret akan sangat bergantung pada data tenaga kerja.

“Mengingat berbagai risiko ekonomi dan ketidakpastian yang terkait dengan drama tarif ini, kami memperkirakan The Fed akan memperkuat pendekatan wait and see,” tegas Ian Lyngen dari BMO Capital Markets, mengutip Bloomberg News.

Adapun lebih detail, menyitir Panin Sekuritas, penguatan Bursa Saham Korea terdorong adanya rilis data Indeks Harga Produsen Korea pada Januari 2026 yang berhasil mencatat kenaikan 0,6% MoM (dari sebelumnya: +0,4% MoM). 

“Selain itu, rilis data Indeks Kepercayaan Konsumen Korea Selatan pada Februari 2026 meningkat di level 112,1 (dari sebelumnya: 110,8),” papar Panin dalam risetnya. 

Implikasinya, pandangan konsumen terhadap kondisi ekonomi dalam negeri Korea Selatan saat ini membaik menjadi 95% dan ekspektasi terhadap kondisi ekonomi ke depan meningkat di level 102

(fad)

No more pages