Logo Bloomberg Technoz

Adapun saham–saham barang baku yang terbang tinggi di zona positif adalah, saham PT Merdeka Gold Resources Tbk (EMAS) melesat 6,33%, saham PT Chandra Asri Pacific Tbk (TPIA) menguat 6,32%, dan saham PT Timah Tbk (TINS) melejit 6,12%.

Senada, saham transportasi juga melesat hingga menjadi penopang IHSG, saham PT Pelayaran Nasional Ekalya Purnamasari Tbk (ELPI) terbang 8,71%, saham PT Habco Trans Maritima Tbk (HATM) mencatat kenaikan 7,32%, dan saham PT Putra Rajawali Kencana Tbk (PURA) menguat 5,71%.

Saham–saham LQ45 juga melesat dan bergerak pada teritori positif i.a, saham PT Barito Pacific Tbk (BRPT) melesat 5,94%, saham PT Unilever Indonesia Tbk (UNVR) menguat 5,81%, dan saham PT XLSmart Tbk (EXCL) terapresiasi 5,14%.

Sama halnya, tren positif juga terjadi pada saham LQ45 berikut, saham PT Trimegah Bangun Persada Tbk (NCKL) mencatat penguatan 4,75%, saham PT Indah Kiat Pulp and Paper Corp Tbk (INKP) ada kenaikan 4,59%, dan saham PT Semen Indonesia Tbk (SMGR) menguat 4,22%.

APBN Defisit Rp54,6 T per Januari 2026

Hari ini, Menteri Keuangan Republik Indonesia Purbaya Yudhi Sadewa memaparkan laporan terbaru Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) tahun 2026. Pada awal Januari, APBN 2026 sudah mencatat defisit.

Pada Senin, Purbaya Yudhi mengungkapkan realisasi Penerimaan Negara per Januari 2026 adalah Rp172,7 triliun.

“Angka ini tumbuh sebesar 9,5% secara tahunan atau year on year (yoy),” kata Purbaya dalam Konferensi Pers APBN Kinerja dan Fakta, Senin. Dia menuturkan kinerja ini ditopang oleh Penerimaan Perpajakan dan Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP).

Adapun realisasi Belanja Negara per Januari tercatat mencapai Rp227,3 triliun. Ada kenaikan 25,7% dibanding realisasi pada Januari tahun lalu pada 2025.

Dengan itu, APBN 2026 membukukan defisit Rp54,6 triliun per 31 Januari. Angka ini setara dengan 0,21% terhadap Produk Domestik Bruto (PDB).

Yang jadi perhatian pasar, angka defisit ini lebih besar dibanding realisasi pada periode yang sama pada tahun lalu, yang hanya terbilang Rp23 triliun atau 0,09% terhadap PDB.

“Terkait defisit APBN, angka ini masih sangat terkendali dan masih berada dalam desain koridor APBN 2026,” ujar Purbaya Yudhi.

Sementara itu, Keseimbangan Primer, lanjut Purbaya Yudhi, tercatat mengalami defisit Rp4,2 triliun per Januari. Keseimbangan Primer yang defisit berarti pemerintahan Presiden Prabowo Subianto sudah mengalami gali lubang tutup lubang di pembuka tahun 2026, atau sebutannya utang lama perlu dibayar dengan penarikan utang baru.

Padahal, Keseimbangan Primer pada periode yang sama tahun sebelumnya berhasil mencatatkan surplus mencapai Rp11,1 triliun.

Sebagai catatan, Keseimbangan Primer merupakan kondisi di mana total pendapatan negara dikurangi belanja negara, di luar pembayaran bunga utang. Apabila total pendapatan negara lebih besar dibandingkan belanja negara di luar pembayaran bunga utang, maka keseimbangan primer akan positif.

Sebaliknya bila keseimbangan negatif, maka itu berarti total pendapatan negara lebih kecil bila dibanding belanja negara di luar pembayaran bunga utang.

(fad/ain)

No more pages