Logo Bloomberg Technoz

Slogan anti-pemerintah serupa juga dilaporkan muncul di Universitas Ferdowsi, kota Mashhad. Di Universitas Teknologi Sharif, Teheran, mahasiswa bahkan meneriakkan dukungan bagi putra mendiang Shah Iran yang kini berada di pengasingan. Meski demikian, seluruh rekaman video tersebut belum dapat diverifikasi secara independen oleh Bloomberg.

Protes ini terjadi saat Iran terus bergelut dengan tekanan ekonomi hebat dan ancaman serangan militer dari Amerika Serikat (AS). Pada Minggu, nilai tukar Rial merosot ke level terendah sepanjang sejarah, yakni sekitar 1,65 juta per dolar AS di pasar gelap. Angka ini menunjukkan pelemahan sebesar 14% dibandingkan depresiasi tajam pada akhir Desember lalu yang memicu protes awal.

Bulan lalu, Presiden AS Donald Trump menyatakan dukungannya bagi para demonstran Iran dengan menyebut bahwa "bantuan sedang dalam perjalanan." Ia juga memperingatkan Teheran akan adanya tindakan militer jika penindasan terus berlanjut. Jumat lalu, Trump kembali memberi tenggat waktu 10 hingga 15 hari bagi Iran untuk menyepakati perjanjian nuklir baru guna menghindari serangan AS.

Di tengah ketegangan tersebut, Reuters mengutip seorang pejabat senior Iran yang menyebutkan bahwa putaran negosiasi nuklir berikutnya antara Teheran dan Washington dijadwalkan pada awal Maret mendatang. Pejabat itu mengisyaratkan Iran mungkin bersedia mengekspor sebagian stok uranium yang diperkaya tinggi atau mengencerkan kemurnian material nuklirnya, asalkan hak mereka untuk melakukan pengayaan damai tetap diakui.

Otoritas Iran sejauh ini menuduh AS dan Israel sebagai dalang di balik kerusuhan tersebut. Namun, Pemimpin Tertinggi Ayatollah Ali Khamenei secara tidak langsung mengakui peran pasukannya dalam jatuhnya korban jiwa.

Khamenei menyatakan dirinya turut "berduka" atas mereka yang tewas dalam kerusuhan tersebut. Meski demikian, ia menambahkan, "Dari mana pun asal peluru itu, peristiwa tersebut terjadi di tengah fitnah dan hasutan musuh."

(bbn)

No more pages