Langkah diplomasi ini berlangsung saat AS mengerahkan kekuatan militer besar-besaran di Timur Tengah, termasuk dua kapal induk, guna menekan Teheran agar menyepakati perjanjian nuklir baru. Presiden Donald Trump pada Jumat lalu bahkan menyatakan tengah mempertimbangkan serangan terbatas ke Iran, sebuah langkah yang berisiko memicu konflik baru yang merusak stabilitas.
Menanggapi situasi ini, Araghchi menegaskan kembali bahwa Iran sedang menggodok proposal perjanjian yang mampu memenuhi kepentingan kedua belah pihak.
"Saya yakin saat kita bertemu lagi di Jenewa Kamis ini, kita bisa mengolah elemen-elemen tersebut, menyiapkan draf yang baik, dan mencapai kesepakatan dengan cepat. Saya melihat hal itu sangat mungkin terjadi," tambahnya. Hingga berita ini diturunkan, pihak Gedung Putih belum memberikan komentar resmi.
Sementara itu, dewan Badan Energi Atom Internasional (IAEA) dijadwalkan bertemu di Wina pada 2 Maret mendatang. Para diplomat diperkirakan akan menimbang resolusi baru untuk mengecam program nuklir Iran, yang berpotensi membawa masalah ini ke Dewan Keamanan PBB.
Pekan lalu, Trump memberikan tenggat waktu 10 hingga 15 hari kepada Iran. Meski sinyal dari Washington mengenai isi kesepakatan tampak simpang siur, presiden AS tersebut kini terlihat lebih mengincar perjanjian yang bersifat terbatas. Namun, masih belum jelas serangan seperti apa yang akan dilakukan Washington jika perundingan buntu, mengingat AS dan Israel telah menggempur situs nuklir dan sistem pertahanan udara Iran secara ekstensif tahun lalu.
Steve Witkoff menyatakan kepada Fox News pada Sabtu lalu bahwa syarat "nol pengayaan uranium" adalah harga mati bagi AS. Hal ini membantah laporan kantor berita semi-pemerintah Iran, ISNA, yang menyebut AS telah menerima garis merah (red line) Iran untuk tetap melanjutkan pengayaan.
"Pertama-tama, pengayaan adalah hak kami," tegas Araghchi saat ditanya apakah Iran bersedia menerima syarat nol pengayaan. Iran terus konsisten menyatakan bahwa program nuklirnya bertujuan damai dan membantah berupaya menciptakan senjata nuklir.
"Saat ini, kami hanya merundingkan masalah nuklir dan tidak ada subjek lain," tegas Araghchi.
Di sisi lain, Financial Times melaporkan pada Minggu bahwa Iran telah menyepakati kesepakatan senilai €500 juta dengan Rusia untuk mengakuisisi ribuan rudal panggul canggih dalam jangka waktu tiga tahun ke depan.
(bbn)



























