Ketut mengatakan nantinya cabai rawit merah dari petani direncanakan diserap dengan harga sekitar Rp45.000/kilogram (kg) dan dijual pedagang pasar induk di kisaran Rp50.000/kg. Selanjutnya, harga eceran ke konsumen ditargetkan berada pada rentang Rp60.000 hingga Rp65.000/kg
Ketut mengatakan, pasokan awal ditargetkan minimal 2 ton per hari selama dua pekan ke depan. Dengan banjir pasokan di pasar induk, pemerintah berharap harga cabai dapat turun bertahap hingga Rp10.000–Rp15.000 per kilogram dari posisi saat ini.
Data Badan Pusat Statistik mencatat rata-rata harga cabai rawit nasional hingga minggu kedua Februari 2026 berada di Rp67.038/kg. Kenaikan Indeks Perubahan Harga (IPH) cabai rawit terjadi di sekitar 58,33% wilayah Indonesia.
Meski demikian, kondisi tahun ini dinilai lebih terkendali dibandingkan awal Ramadan 2025, ketika harga cabai rawit sempat menembus Rp85.694/kg dan kenaikan IPH terjadi di 65% wilayah. Pemerintah kala itu mampu menekan harga pasca-Idulfitri hingga turun ke kisaran Rp76.793/kg.
Bapanas menegaskan stabilitas harga pangan strategis selama Ramadan menjadi perhatian utama pemerintah. Kepala Bapanas Andi Amran Sulaiman menyatakan pengendalian harga dilakukan sesuai arahan Presiden Prabowo Subianto agar daya beli masyarakat tetap terjaga hingga Idulfitri.
“Pemerintah akan terus hadir menjaga harga pangan dan memastikan pasokan cukup, terutama di bulan suci Ramadan,” kata Amran.
(ain)































