Logo Bloomberg Technoz

“Kita belum pernah melihat sesuatu seperti ini pada tahap akhir siklus ekspansi ekonomi, dan itulah yang membuat situasi ini begitu janggal serta sulit untuk menilai ke mana arah ekonomi selanjutnya,” ujar Diane Swonk, kepala ekonom di KPMG, seperti dikutip oleh Bloomberg News. 

Bagi mata uang di pasar Asia termasuk rupiah, kondisi tersebut jadi sentimen negatif eksternal. Pertumbuhan ekonomi yang cukup solid dan imbal hasil aset dolar yang cukup atraktif bisa mendorong aliran modal global bertahan atau kembali ke pasar AS. 

Dari pasar Asia yang sudah dibuka, won Korea Selatan tertekan paling dalam sebesar 0,58%, kemudian disusul ringgit Malaysia 0,47%, dan dolar Singapura susut tipis 0,06%. Sementara, hanya yen Jepang yang menguat tipis 0,03% disusul yuan offshore China menguat 0,01%. 

Nilai tukar mata uang Asia di pasar yang sudah buka pada Kamis pagi (19/2/2026). (Bloomberg).

Dari dalam negeri, sentimen fiskal dan respons pasar terhadap pembiayaan pemerintah ikut membatasi ruang penguatan rupiah hari ini. Kebutuhan pembiayaan untuk anggaran belanja yang tetap besar pada awal tahun membuat pasar cukup sensitif. 

Hal ini tercermin dalam hasil lelang Surat Utang Negara (SUN) yang berlangsung kemarin (18/2/2026) dan mencatatkan penurunan penawaran sebesar 17,66% dari Rp76,59 triliun menjadi Rp63,06 triliun. 

Agaknya penurunan ini menunjukkan sikap wait and see pelaku pasar, terutama di tengah penguatan dolar AS dan ketidakpastian arah suku bunga global. Meskipun pemerintah tetap mampu menyerap dana sesuai target indikatif, berkurangnya incoming bids dapat menjadi sinyal bahwa investor meminta premi risiko lebih tinggi atau enggan merespons lelang hingga volatilitas mereda. 

Tekanan tersebut membuat arah rupiah dalam jangka pendek cenderung dibayangi bias pelemahan. Selama indeks dolar AS bertahan di level tinggi, ruang apresiasi rupiah menjadi relatif terbatas. 

Di sisi lain, pelemahan minat pada lelang SUN menjadi sinyal bahwa investor asing belum kembali agresif masuk ke pasar domestik. Tanpa adanya katalis positif tambahan, rupiah cenderung berpotensi bergerak dalam mode defensif. 

Hari ini, Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia (BI) akan mengumumkan penetapan tingkat suku bunga acuan. Berdasarkan konsensus ekonom yang dihimpun Bloomberg, BI diperkirakan menahan tingkat suku bunga di level sama 4,75% untuk stabilisasi nilai tukar rupiah. 

Analisa Teknikal

Sejalan dengan sentimen eksternal dan internal tersebut, serta kondisi rupiah di pasar offshore, secara teknikal nilai rupiah di pasar spot juga berpotensi melanjutkan tren pelemahan hari ini. Adapun rupiah berpotensi melemah menembus support pada level Rp16.900/US$, hingga selanjutnya bisa menuju Rp16.950/US$ usai break trendline sebelumnya.

Teknikal rupiah juga memperlihatkan level Rp17.000/US$ sebagai level paling pesimistis pelemahan rupiah hari ini dalam time frame daily, pada tren jangka pendek (Short-term).

Sebaliknya nilai rupiah memiliki level resistance terdekat pada level Rp16.860/US$. Apabila level ini berhasil tembus, maka mengonfirmasi resistance selanjutnya pada level Rp16.800/US$ juga sebagai resistance potensial.

-- update dengan tambahan analisa tekninal

(riset/aji)

No more pages