Logo Bloomberg Technoz

Sisi Positif

Di sisi lain, dia memprediksi pemangkasan produksi bijih tersebut juga bisa membuat perusahaan smelter eksisting mempercepat pengembangan ke smelter berbasis hidrometalurgi berbasis high pressure acid leach (HPAL) yang mampu mengolah bijih berkadar rendah atau limonit untuk bahan baku baterai.

Selain itu, Wahyu menilai perusahaan yang memiliki tambang nikel terintegrasi dengan pabrik pengolahan atau smelter berpotensi mendapatkan keuntungan yang lebih tinggi gegara pemangkasan itu.

“Karena harga jual produk olahan mereka meningkat, sementara mereka punya akses mandiri ke bijih,” ungkapnya.

Ihwal harga nikel, Wahyu menyatakan ketika kuota produksi sebesar 270 juta ton diumumkan maka harga nikel di London Metal Exchange (LME) langsung melonjak di atas US$17.000—US$18.000 per ton.

Dia meyakini harga bisa terus merangkak naik jika defisit nikel di pasar global bisa terjadi gegara kekurangan bijih nikel yang terjadi pada smelter domestik.

“[Kebijakan pemangkasan RKAB nikel 2026 dapat] membantu rebound harga nikel global yang sempat tertekan akibat oversupply. Indonesia sebagai pemegang pangsa pasar terbesar akhirnya menunjukkan taringnya dalam kendali suplai,” kata Wahyu.

Adapun, Forum Industri Nikel Indonesia (FINI) berpandangan utilisasi fasilitas pengolahan dan pemurnian (smelter) nikel akan menurun sekitar 25% hingga 30%, gegara pemangkasan rencana produksi nikel dalam RKAB 2026.

Ketua Umum FINI Arif Perdana Kusumah menyatakan industri hilir nikel yakni smelter akan paling terdampak pengetatan RKAB tahun ini lantaran pasokan domestik jauh di bawah kebutuhan umpan bijih nikel yang diperlukan.

“Utilisasi fasilitas pengolahan dan pemurnian di Indonesia efektif menurun sekitar 25%—30%. Hal ini akan terjadi jika tidak ada pasokan impor dari negara lain,” kata Arif saat dihubungi, Sabtu (14/2/2026).

Kondisi tersebut, kata dia, mengakibatkan produksi nikel lebih rendah dibandingkan dengan target.

Sementara itu, dia menilai upaya peningkatan operasional smelter hidrometalurgi berbasis HPAL akan tertunda atau melambat, karena kekurangan pasokan bahan baku bijih nikel.

Tidak hanya itu, volume ekspor produk nikel juga akan berkurang dibandingkan target dan tahun sebelumnya.

Hingga kini, lanjut Arif, pihaknya belum mendapatkan informasi secara terperinci ihwal alokasi RKAB nikel periode 2026 sebanyak 270 juta ton bagi masing-masing perusahaan penambang nikel yang terintegrasi maupun nonterintegrasi.

Ditjen Minerba Kementerian ESDM mengumumkan telah menerbitkan RKAB nikel periode 2026 pada Selasa (10/2/2026). 

Menurut Dirjen Mineral dan Batu Bara Kementerian ESDM Tri Winarno, kuota produksi bijih nikel yang disetujui berada di rentang 260 juta ton sampai 270 juta ton.

Kuota itu merosot lebar jika dibandingkan dengan target produksi pada RKAB tahun sebelumnya sebesar 379 juta ton.

“[RKAB] nikel sudah kita umumkan hari ini, [target produksinya] 260—270 juta ton, in between range-nya itu,” kata Tri saat ditemui di Gedung Ditjen Minerba, Selasa (10/2/2026).

-- Dengan asistensi Mis Fransiska Dewi

(azr/wdh)

No more pages