Regulator berada di bawah tekanan untuk memulihkan kredibilitas pasar, terutama setelah MSCI bulan lalu memperingatkan bahwa Indonesia berisiko diturunkan statusnya menjadi pasar frontier, dengan sentimen investor juga terbebani kekhawatiran penurunan peringkat utang negara.
“Langkah S&P Dow menunjukkan bahwa otoritas Indonesia kemungkinan membuat kemajuan dalam memenuhi tuntutan penyedia indeks,” kata Nirgunan Tiruchelvam, analis di Aletheia Capital.
“Harapannya, mereka akan terus menangani kekhawatiran terkait struktur kepemilikan yang tidak transparan dan free float secara cepat.”
FTSE Russell pekan lalu menyatakan akan menunda tinjauan indeks Maret untuk Indonesia, dengan alasan risiko perputaran saham yang merugikan dan ketidakpastian terkait porsi saham publik, serta akan meninjau kembali situasinya pada Juni.
Langkah ini mengikuti peringatan MSCI terkait isu kelayakan investasi dan aksesibilitas — yang akan dievaluasi pada Mei — yang sempat memicu aksi jual terbesar di pasar terbesar Asia Tenggara tersebut dalam hampir tiga dekade.
Sejak gejolak pasar bulan lalu, regulator Indonesia telah menjanjikan reformasi untuk meningkatkan transparansi dan likuiditas.
Langkah tersebut mencakup penggandaan persyaratan minimum free float menjadi 15% serta pengetatan standar keterbukaan informasi.
Negara ini juga mengalami perubahan kepemimpinan di otoritas bursa dan lembaga regulator.
(bbn)


























