Pernyataan tersebut dianggap sangat signifikan karena menyiratkan kemungkinan Jepang mengerahkan militernya sebagai respons atas aksi militer China. Beijing telah menuntut agar Takaichi menarik komentarnya. Sebagai bentuk protes, China juga telah memberlakukan kontrol ekspor dan memberikan imbauan kepada warganya untuk tidak berkunjung ke Jepang.
Secara hukum internasional, ZEE adalah wilayah laut yang membentang hingga 200 mil laut dari garis pantai suatu negara, yang memberikan hak eksklusif kepada negara tersebut untuk mengeksplorasi dan mengeksploitasi sumber daya alam. Peta yang dirilis oleh Badan Perikanan Jepang menunjukkan kapal China itu memang masuk ke ZEE, meski penangkapan sang kapten baru terjadi setelah kapal sempat keluar dari zona tersebut.
Penyitaan kapal dan penangkapan kru asing oleh Jepang sebenarnya tergolong kejadian langka. Berdasarkan data Badan Perikanan, selama periode lima tahun hingga 2025, petugas hanya melakukan pemeriksaan fisik terhadap kapal asing sebanyak 30 kali. Dari puluhan pemeriksaan tersebut, hanya lima kapal yang disita, dan hanya satu yang merupakan kapal asal China pada tahun 2022.
PM Takaichi sendiri tetap menolak untuk mencabut pernyataannya. Namun, setelah memenangkan pemilihan umum dengan kemenangan telak, ia menyatakan pada hari Senin bahwa Jepang akan terus berkomunikasi dengan China di "berbagai tingkatan" dan akan merespons secara "tenang serta tepat dari sudut pandang kepentingan nasional Jepang."
Media pemerintah China merespons kemenangan Takaichi dengan serangkaian komentar yang memperingatkan dampak negatif terhadap keamanan regional. Kantor berita Xinhua menulis bahwa kebijakan Takaichi berpotensi melepaskan "tiga iblis" yang dapat mengganggu perdamaian Asia Timur, yaitu niat merevisi konstitusi, peningkatan anggaran pertahanan, dan pengejaran kepemilikan senjata ofensif.
Wu Jianghao, Duta Besar China untuk Jepang, menyebutkan bahwa hubungan bilateral kedua negara telah "jatuh ke situasi paling parah dan sulit" sejak normalisasi hubungan diplomatik pada 1972.
Ketegangan serupa pernah mencapai puncaknya pada 2010, ketika seorang kapten kapal China ditahan selama 17 hari setelah kapalnya bertabrakan dengan dua kapal Penjaga Pantai Jepang di dekat kepulauan yang disengketakan di Laut China Timur. Wilayah tersebut dikenal sebagai Senkaku di Jepang dan Diaoyu di China. Tahun lalu, kapal-kapal pemerintah China tercatat berada di perairan sekitar kepulauan tersebut selama 356 hari, meningkat dari 355 hari pada tahun sebelumnya.
(bbn)































