Saat ini, pemegang hak partisipasi atau participating interest (PI) di Blok Masela adalah Inpex Masela Ltd. dengan porsi 65%. Tadinya, sisa 35% hak partisipasi di blok tersebut dikendalikan oleh Shell Upstream Overseas Services Ltd.
Per Juli 2023, sebanyak 35% hak Partisipasi Shell dilego ke PT Pertamina Hulu Energi (PHE) Masela dan Petrolian Nasional (Petronas) Masela Berhad dengan pembagian porsi masing-masing sebesar 20% dan 15%.
Adapun, SKK Migas sempat mengonfirmasi terdapat tambahan biaya investasi di Blok Masela untuk mengimplementasikan penambahan fasilitas carbon capture storage (CCS).
Perusahaan migas asal Negeri Sakura tersebut menambah biaya US$1 miliar atau setara Rp16,34 triliun (asumsi kurs Rp16.350) untuk proyek tangkap-simpan karbon di Blok Masela.
Dengan demikian, proyek yang awalnya senilai US$20,94 miliar, kini bengkak menjadi US$21,94 miliar.
Djoko sebelumnya mengatakan CCS yang akan dibangun Inpex Masela Ltd. pada salah satu ladang gas raksasa RI itu juga bisa dimanfaatkan oleh perusahaan lain baik dari dalam maupun luar negeri.
Jadi, bukan hanya CO2 yang dari Masela, tetapi dari luar juga bisa diinjeksi di situ. Jadi, sebagai hub untuk injeksi CO2-nya," ujarnya.
Pemerintah, kata dia, juga bakal mereplikasi proyek CCS di Blok Masela ke blok-blok gas lain di Tanah Air, termasuk yang masih dalam tahap pengembangan.
"Sekarang juga sedang dilakukan di proyeknya BP, UCC Tangguh. Itu sama persis," tutur Djoko, Kamis (28/8/2025).
Kala itu, Presiden dan CEO Inpex Corporation Takayuki Ueda mengakui ada tambahan biaya untuk mengimplementasikan fasilitas CCS di Blok Masela.
Tambahan biaya tersebut bakal terlihat secara konkret melalui proses desain rekayasa awal atau front end engineering and design (FEED).
“Namun, kami menekankan bahwa kenaikan biaya sebesar 5% dari total biaya badan kami akan dialokasikan untuk CCS. Jadi, kenaikan biaya sebesar 5% untuk proyek CCS,” ujarnya.
Ueda juga tak menutup kemungkinan fasilitas CCS yang akan dibangun bisa diekspor ke negara lain, termasuk Jepang, Korea Selatan, Malaysia, Thailand, China, hingga Taiwan.
"Jadi kita berpikir di masa depan, proyek Abadi CCS bukan hanya menginjeksi CO2 dari proyek Abadi, tetapi juga untuk menginjeksi CO2 dari negara lain, termasuk Jepang dan Korea. Abadi CCS diharapkan menjadi proyek yang besar di dunia," jelasnya.
(azr/wdh)




























