"Kita syukuri dulu itu, kita syukuri pada petani Indonesia. Itu tidak mudah. Ini kerjaan nggak gampang. Petani ini beri ruang untuk pasti berproduksi," tutur Amran.
Sebelumnya, Pengamat pertanian dari Asosiasi Ekonomi Politik Indonesia, Khudori mengatakan, kenaikan harga cabai merah menjelang periode Ramadan tahun ini merupakan faktor musiman yang terjadi secara tahunan, seraya kenaikan permintaan dan pasokan yang minim.
Penyebab lainnnya juga menjadi alasan fenomena musiman ini yakni produksi yang juga hanya musiman dan hanya terkonsentrasi di segelintir wilayah.
"Ini siklus tahunan. Akar masalahnya produksi musiman dan terkonsentrasi di segelintir wilayah. Problem ini sudah laten sejak berpuluh tahun lalu, hampir tidak ada perubahan," ujarnya saat dihubungi.
Saat ini, kata Khudori, pasokan cabai juga hanya terpusat di wilayah Jawa dan Sumatra. Jika logistik daerah itu terganggu, maka tidak menutup kemungkinan akan menaikkan harga cabai.
Catatan internalnya juga mengatakan bahwa areal tanaman cabai di Indonesia dalam beberapa tahun hanya bergerak di kisaran luas 220 ribu hingga 250 ribu hektare dengan produksi sekitar 1,2-15 juta ton/tahun.
Dia mengutip salah satu studi jika pola tanam dan panen cabai di Indonesia yang tetap atau tidak berubah yakni panen pada Mei-November dengan panen besar pada Mei-Juli dan panen tipis di Agustus-September, sedangkan Desember-April paceklik.
"Merujuk pola ini, sejak awal tahun hingga Ramadan adalah paceklik. Mustinya, jauh-jauh hari pemerintah bisa mengantisipasi ini agar harga cabai tidak semakin pedas, tutur dia.
"Antisipasi ini jadi penting karena catatan panjang sejarah percabaian menandai bahwa tangan-tangan negara masih belum kuasa menjinakkan harga cabai."
(ell)






























