Logo Bloomberg Technoz

“Kami menilai adanya stabilisasi pasar tenaga kerja, ditandai perekrutan yang moderat dan PHK yang terbatas, akan membantu The Fed tetap pada jalurnya untuk memangkas suku bunga satu atau dua kali tahun ini, dengan asumsi tekanan harga terus mereda,” kata Angelo Kourkafas dari Edward Jones, seperti dikutip Bloomberg News.

Dari pasar Asia, pasar menantikan data yang akan dirilis meliputi produk domestik bruto Singapura, kepercayaan bisnis Australia, serta pesanan mesin perkakas Jepang.  Namun, pelemahan dolar AS kali ini apalagi di tengah ekspektasi data ekonomi AS, belum sepenuhnya menjadi pendongkrak bagi mata uang emerging market, termasuk rupiah.

Hal ini terlihat dari pergerakan mata uang Asia dari pasar yang sudah dibuka cenderung bergerak di zona merah. Yen Jepang misalnya, setelah mencatat penguatannya kemarin, hari ini kembali susut 0,19%, dolar Singapura susut 0,05%, won Korea Selatan 0,04%, dan yuan offshore China juga susut 0,03%. Dari zona hijau hanya ada ringgit Malaysia yang terapresiasi sebesar 0,13% 

Rupiah diprediksi masih akan terbebani berbagai sentimen domestik. Meski kemarin, pelemahan dolar AS mampu mendorong penguatan rupiah, tetapi di pasar obligasi domestik terjadi aksi jual cukup masif menyusul penurunan outlook kredit Indonesia dari stabil menjadi negatif, lantaran sentimen turunnya outlook dan naiknya imbal hasil US Treasury tenor 10Y yang naik menjadi 4,23%. 

Tekanan di pasar surat utang domestik terlihat dari kenaikan imbal hasil (yield) surat utang di hampir semua tenor. Kemarin, data Bloomberg menunjukkan kenaikan yield merata di hampir semua tenor, baik pendek, menengah, dan beberapa di tenor panjang. 

Yield 1Y telah menyentuh 5,07% dengan kenaikan 8,6 bps, yield tenor 2Y dan 3Y masing-masing sudah tembus 5,16% dan 5,51%. Begitu juga dengan tenor 10Y, mengalami kenaikan yield 3 bps ke 6,46%. Sementara, tenor panjang juga terkerek yield-nya menjadi 6,71% untuk tenor 20Y dan tenor 30-40Y mendekati 6,78%. 

Agaknya rilis data Indeks Keyakinan Konsumen kemarin belum mampu mengangkat kembali kepercayaan pasar terhadap aset berdenominasi rupiah.

Dari pasar domestik, pasar masih mencermati langkah kebijakan lebih jauh, dari sekadar konferensi pers, yang akan diambil otoritas dengan turunnya outlook kredit yang dilabel Moody’s Investor Service pekan lalu. Sentimen outlook atau proyeksi negatif itu akan tetap mendominasi psikologis pasar.

Moody’s menyoroti pentingnya menjaga prediktabilitas pengambilan kebijakan, komunikasi publik, dan kualitas koordinasi antar kementerian/lembaga. 

Selain itu, lembaga pemeringkat ini juga menggarisbawahi pentingnya memperkuat basis penerimaan negara untuk mendukung belanja prioritas serta membiayai pertumbuhan ekonomi yang lebih tinggi. 

Sehari setelah merilis outlook tersebut, Moody’s juga kembali menurunkan sejumlah outlook perusahaan-perusahaan BUMN seperti PGN, Pelindo, PLN, Hutama Karya dan perusahaan keuangan Indonesia termasuk Lembaga Pembiayaan Ekspor Indonesia menjadi negatif.

Terbaru, Moody’s juga kembali merilis penurunan outlook lima bank besar dari stabil menjadi negatif. Dengan sentimen domestik yang berkelindan itu, pergerakan rupiah masih akan terbatas di rentang Rp16.800-Rp16.950/US$. 

(dsp/aji)

No more pages