Jika terus berlanjut, tambah Moody’s, maka tren ini dapat menggerus keyakinan pelaku pasar terhadap kredibilitas kebijakan Indonesia yang telah lama dibangun. Ini adalah pondasi yang mendasari pertumbuhan ekonomi yang solid, serta stabilitas makro ekonomi dan stabilitas sistem keuangan.
Sinyal ini tak hanya diarahkan ke pemerintah terkait reputasi fiskalnya, tapi juga ke investor saham dan obligasi bahwa risiko investasi di pasar domestik cenderung tinggi, dan dapat diterjemahkan sebagai sinyal risiko langsung bagi stabilitas rupiah dan keberlanjutan arus modal asing ke Indonesia.
Di tengah likuiditas global yang semakin selektif, indikasi pelemahan disiplin fiskal seperti ini berpotensi menjadi tekanan pada nilai tukar, kenaikan premi risiko, dan arus keluar portofolio.
Meski masih dapat label investment grade alias layak investasi, tetapi penurunan outlook ini membuat pasar berhitung ulang untuk membeli aset rupiah di pasar domestik.
Melansir data Bloomberg, secara month-to-date arus keluar modal asing di pasar saham tercatat US$96,2 juta, sementara di pasar surat utang masih membukukan arus modal masuk senilai US$311,2 juta.
Sebagai negara yang masih membutuhkan arus modal asing untuk membiayai pembangunannya, kepercayaan investor adalah jangkar utama stabilitas. Ruang eksperimentasi fiskal Indonesia kini semakin dibatasi oleh disiplin pasar, bukan sekadar aturan formal.
Dalam jangka pendek, efek penurunan outlook ini dapat meningkatkan kehati-hatian investor global dan dapat tercermin dalam arus modal keluar di pasar surat utang pemerintah.
Dalam skenario ini, rupiah cenderung bergerak sideways cenderung melemah hingga muncul katalis yang dirasa cukup kuat untuk mematahkan tren, seperti penegasan disiplin fiskal yang selama ini jadi perhatian utama pelaku pasar.
Sementara, dalam jangka menengah, jika kredibilitas fiskal dipersepsikan melemah, rupiah berisiko terjebak dalam volatilitas tinggi, alhasil dapat memaksa BI mempertahankan kebijakan ketat lebih lama demi stabilisasi nilai tukar rupiah.
Meski begitu, Samuel Sekuritas menyebut prospek pertumbuhan Indonesia tetap konstruktif, setelah Badan Pusat Statistik (BPS) kemarin mengumumkan data pertumbuhan ekonomi sebesar 5,11% secara tahunan.
Setidaknya data ini, bisa menjadi salah satu bantalan bagi sentimen yang bergejolak belakangan, apalagi dengan adanya reformasi pasar modal yang diharapkan bisa secara bertahap memperkuat kepercayaan investor.
Akan tetapi dalam catatannya, Samuel menggarisbawahi juga bahwa kredibilitas yang sedang diperbaiki saat ini bergantung pada konsistensi eksekusi dan perbaikan tata kelola, "bukan retorika semata," kata laporan Samuel Sekuritas.
(riset/aji)





























