Menurut sumber yang mengetahui hal ini, Glencore menginginkan rasio pertukaran saham yang akan memberikan sekitar 40% saham kepada investornya setelah perusahaan merger. Rio Tinto mundur setelah tidak dapat menerima premi yang tersirat, dan perusahaan lebih kecil itu enggan berkompromi.
Kedua perusahaan menolak berkomentar mengenai detail pembicaraan tersebut.
"Rio Tinto telah memutuskan bahwa mereka tidak dapat mencapai kesepakatan yang akan memberikan nilai bagi pemegang sahamnya," kata perusahaan dalam pernyataan.
Saham Glencore anjlok hingga 11%. Perusahaan tersebut mengatakan dalam pernyataan terpisah bahwa mereka memiliki posisi yang kuat sebagai perusahaan independen dan tetap fokus pada pemenuhan prioritasnya sendiri.
Glencore mengatakan bahwa Rio Tinto berupaya mengamankan posisi ketua dan direktur utama tanpa menawarkan premi yang cukup besar.
Ide merger kedua perusahaan telah dibahas beberapa kali selama lebih dari satu dekade. Ide ini pertama kali diusulkan sebelum krisis keuangan global 2008, kemudian dihidupkan kembali pada 2014—saat Rio dengan cepat menolak pendekatan informal dari Glencore—sebelum pembicaraan dilanjutkan secara serius pada 2024.
Negosiasi tersebut gagal karena keengganan Rio untuk membayar premi besar, serta perbedaan budaya manajemen. Perundingan terbaru membawa kedua belah pihak lebih dekat dari sebelumnya ke kesepakatan, tetapi mereka tetap berselisih mengenai valuasi bisnis pertambangan dan perdagangan Glencore yang luas.
Kesepakatan ini akan membuat Rio hampir mampu menggandakan produksi tembaga existing-nya, berpotensi menjadikannya produsen tembaga terbesar di dunia saat harga tembaga diperdagangkan mendekati rekor tertinggi. Kesepakatan ini juga akan menambah sekitar 1 juta ton pertumbuhan tembaga di masa depan ke portofolionya.
(bbn)































