Perbaikan ini sejalan dengan berbagai langkah pemerintah dalam menopang pertumbuhan, seperti stimulus fiskal, penyaluran bantuan sosial, serta kebijakan penguatan pasar tenaga kerja. Dalam konteks tersebut, belanja pemerintah pada kuartal IV-2025 diperkirakan juga turut meningkat, terutama pada pengeluaran material dan bantuan sosial.
Sebagai catatan, pengeluaran pemerintah meningkat tajam pada Desember sebesar 69,29% atau menjadi Rp539,60 triliun daripada pengeluaran pada periode November, sebesar Rp318,80 triliun.
Selain itu, pertumbuhan Pembentukan Modal Tetap Bruto (PMTB) atau investasi diperkirakan menguat pada kuartal IV-2025, seiring adanya pertumbuhan modal kerja dan kredit investasi. Pemulihan ini diproyeksikan ditopang oleh investasi konstruksi maupun non-konstruksi, tercermin dari pulihnya konsumsi semen dan percepatan impor barang modal.
Di sisi lain, PMI manufaktur pada Desember 2025 sedikit melambat menjadi 51,2 dari November yang mencapai 53,3. Namun, pada Januari 2026 capaian indeks PMI Manufaktur kembali meningkat menjadi 52,6. Nilai impor barang modal tercatat naik 20,06%, terakselerasi dengan adanya percepatan belanja oleh pelaku pasar menyusul persiapan musim Ramadan dan Idul Fitri yang akan terjadi pada Februari dan Maret (kuartal I-2026).
Begitu juga dengan kinerja Prompt Manufacturing Index Bank Indonesia yang tercatat meningkat pada IV-2025 menjadi 51,86%. Artinya kinerja industri pengolahan masih berada dalam fase ekspansi.
Melansir informasi dari Bank Indonesia data PMI-BI pada kuartal terakhir tahun lalu tercatat lebih tinggi dibandingkan triwulan sebelumnya yang tercatat 51,66%, kenaikan PMI-BI didorong oleh ekspansi pada sebagian besar komponen pembentuknya, terutama volume produksi, persediaan barang jadi, serta total pesanan. Dari sisi sub lapangan usaha (Sub-LU), mayoritas sektor berada pada fase ekspansi, dengan indeks tertinggi pada industri kertas dan barang dari kertas, percetakan dan reproduksi media rekaman, industri barang galian bukan logam, serta industri makanan dan minuman.
“Perkembangan ini sejalan dengan hasil Survei Kegiatan Dunia Usaha (SKDU) Bank Indonesia yang menunjukkan kinerja industri pengolahan tetap solid, tercermin dari Saldo Bersih Tertimbang (SBT) sebesar 1,18%,” sebut laporan BI.
Dalam riset terpisah, Mega Capital Sekuritas juga mencatat adanya pertumbuhan kredit perbankan yang melonjak tajam pada Desember mencapai 9,32% yoy, dari capaian bulan sebelumnya 7,95%.
Akselerasi ini terutama didorong oleh penguatan kredit investasi dan modal kerja, yang masing-masing tumbuh 20,50% yoy dan 4,42% yoy, lebih tinggi dibandingkan bulan sebelumnya sebesar 17,77% yoy dan 2,45% yoy.
“Sebaliknya, pertumbuhan kredit konsumsi justru lambat ke 6,44% yoy dari 7,24% yoy, mengindikasikan bahwa pemulihan kredit bersifat korporasi-led, erat kaitannya dengan realisasi proyek, bukan pemulihan permintaan rumah tangga,” sebut laporan MCS, Rabu (4/2/2026).
Meski konsumsi melambat, penguatan momentum kredit ini ditopang oleh kondisi pendanaan yang membaik, tercermin dari pertumbuhan Dana Pihak Ketiga (DPK) yang meningkat menjadi 10,44% yoy pada Desember, dari 8,54% yoy pada November, sehingga menopang dorongan kredit menjelang akhir tahun. Sejalan dengan itu, loan-to-deposit ratio (LDR) naik tipis ke 89,23% dari 88,91%.
Kondisi tersebut mengindikasikan adanya pengetatan intermediasi yang terbatas dan masih berada dalam kisaran yang terkelola. Hal ini menunjukkan bahwa akselerasi kredit Desember lebih didukung oleh pendanaan, bukan paksaan neraca perbankan.
Dari sisi likuiditas, kondisi juga semakin solid menjelang akhir tahun. Pertumbuhan uang beredar M2 meningkat menjadi 9,59% yoy pada Desember 2025 dari 8,30% yoy, seiring akselerasi M1 dan uang primer (M0) yang masing-masing tumbuh 14,01% yoy dan 14,29% yoy.
“Lingkungan likuiditas yang lebih longgar ini memperkuat perbaikan pertumbuhan simpanan dan menjadi fondasi bagi lonjakan kredit yang didorong oleh eksekusi proyek menjelang tutup tahun,” sebut laporan MCS.
(rst/aji)





























