Pada Rabu (28/1/2026), MSCI merilis pengumuman yang berisi keputusan untuk membekukan seluruh peningkatan Free Float-adjusted Investable Factor (FIF) dan jumlah saham Indonesia, serta memastikan tidak ada penambahan saham Indonesia ke dalam MSCI IMI maupun peningkatan klasifikasi ukuran saham.
Pasar pun panik. IHSG terus tertekan, hingga puncaknya terjadi tak lama setelah pembukaan perdagangan sesi II, ketika IHSG mengalami penghentian sementara atau trading halt, usai IHSG mencatat penurunan hingga 8%. Perdagangan baru kembali dibuka pada pukul 14:13:13.
Kepanikan pasar mencerminkan ada kekhawatiran jika bursa saham Indonesia turun kasta ke kategori frontier market dalam klasifikasi MSCI, dari sebelumnya emerging market.
Situasi kian memburuk, ketika sejumlah lembaga keuangan seperti Goldman Sachs dan UBS menurunkan rating prospek pasar modal RI.
Benar saja, IHSG kembali mengalami trading halt pada Kamis (30/1/2026), kurang dari 30 menit setelah pembukaan perdagangan. Tepat pukul 09.26 WIB, indeks merosot 665,89 poin atau sekitar 8% ke level 7.654,66, sehingga memenuhi ambang batas pertama penerapan trading halt selama 30 menit.
Upaya BEI
Sejatinya, isu MSCI telah bergulir sejak akhir Oktober 2025. MSCI membuka diskusi dan masukan untuk mengubah metodologi perhitungan free float saham-saham Indonesia. Diskusi tersebut dibuka hingga Desember 2025 dan hasilnya bakal diumumkan pada 30 Januari 2026, meski pada akhirnya MSCI memberikan kejutan di hari Rabu.
Sepanjang diskusi tersebut, OJK dan BEI mengaku telah menemui MSCI. Iman Rachman mengaku, pihaknya tetap berupaya memenuhi apa yang menjadi syarat MSCI.
Namun pada saat yang sama, BEI juga menyampaikan keberatan atas metode pembobotan baru dan meminta MSCI untuk memberikan perlakuan yang sama terhadap bursa saham di negara lain.
Menurut BEI, MSCI juga kurang spesifik dalam menyampaikan syarat yang diminta, sehingga BEI harus meraba-raba, bahkan turut berkonsultasi dengan FTSE, sebelum akhirnya MSCI mengumumkan perlakuannya terhadap bursa saham RI Rabu kemarin.
Sentilan Danantara
Pada kesempatan berbeda, CIO Danantara Pandu Sjahrir memberikan pandangan berbeda. Dia memberikan sentilan keras kepada regulator pasar modal.
Dalam kegiatan Prasasti Economic Forum 2026, Pandu mengaku jika dirinya juga telah bertemu dengan jajaran direksi MSCI. Menurutnya, masukan dari MSCI sudah sangat jelas. Sehingga, jika regulator pasar modal tidak bertindak, konsekuensinya jelas, bursa saham RI turun kasta.
"Saya lagi baca list frontier market, karena sekarang, kan, persiapannya ke frontier market. Ada negara seperti Bangladesh, Burkina Faso, Niger, Pakistan, Senegal, Togo, Indonesia. Mungkin ini [masuk frontier market] cita-cita dari regulator, saya nggak tahu. Saya serahkan balik kepada regulator karena ini sudah fakta," tutur Pandu.
Jika konsekuensi itu terjadi, likuiditas IHSG bisa berkurang drastis. Menurut hitungan Pandu, angkanya bisa mencapai US$25-US$50 miliar. Sementara, likuiditas sangat penting di bursa saham, yang juga menjadi salah satu target investasi Danantara.
"Fokus kami berinvestasi. Tentu salah satunya di pasar modal dan kami ingin capital market yang lebih dalam. Ini sudah kami sampaikan secara eksplisit. Kami ingin pasar modal yang lebih sehat dan lebih baik. Ini juga sudah sangat eksplisit. Tentu kami akan berinvestasi proporsional apabila likuiditasnya nanti menurun [imbas penurunan kelas ke frontier market]."
"Saya serahkan balik kepada regulator bagaimana mereka mau bekerja di sini. Karena saya rasa informasinya sudah pas dan you cannot blame anyone. Menurut saya what MSCI did, tepat. Saya serahkan balik ke regulator."
Saham Gorengan
Pandu Sjahrir juga menyinggung soal saham gorengan, isu yang juga selalu menjadi perhatian Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa.
Pelaku pasar hanya bermain sesuai situasi dan aturan yang ada. Jika suatu hal terjadi, maka aturan perlu diperbaiki dan ini menjadi peran regulator.
"Mohon maaf, nih, saya mungkin agak kenceng, karena bahasanya goreng menggoreng [saham]. Bahasa saya, never hate the player. You're just playing the rule of the engagement. If you don't like the rule of engagement, change the rule of engagement. Balik ke regulator. Never hate the player. You hate the game. Jadi, ya, kalau memang begitu, Anda [regulator] harus ubah," tutur Pandu.
'Sarapan Pagi' Para Menteri
Pemerintah turut menyoroti kejatuhan IHSG, buntut dari keputusan MSCI yang berpotensi membuat pasar modal RI turun kasta menjadi setara sejumlah negara seperti Togo, Nigeria, Bangladesh dan lainnya.
Kamis (29/1/2026), Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menggelar pertemuan bersama sejumlah pejabat seperti Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa, Gubernur BI Perry Warjiyo, Sekretaris Kabinet Teddy Indra Wijaya, hingga Menteri Sekretaris Negara Prasetyo Hadi.
"Pada prinsipnya momentum ini digunakan untuk mereformasi regulasi pasar modal," ujar Airlangga kepada wartawan di kantornya, Jakarta, Kamis (29/11/2026).
Sehari setelahnya, Jumat (31/1/2025), Airlangga mengumumkan sejumlah kebijakan yang akan diambil oleh pemerintah, di antaranya percepatan penambahan batas minimal free float 15%.
Pemerintah juga akan mendorong kenaikan batas investasi untuk perusahaan dana pensiun (dapen) dan asuransi menjadi 20% dari semula 8%.
"Nanti dana pensiun dan asuransi limit investasi di pasar modal ditingkatnya dari 8% ke 20%," ujar Airlangga dalam konferensi pers di kantor pusat Danantara, Jakarta, Jumat (30/1/2026).
Langkah selanjutnya, kata Airlangga, pemerintah juga akan mempercepat demutualisasi Bursa Efek Indonesia (BEI) sebagai bentuk transformasi struktural demi mencegah praktik pasar modal yang tidak sehat.
Usai serangkaian pertemuan di level pemerintah tersebut, Iman Rachman, Mahendra Siregar, Inarno Djajadi dan Mirza Adityaswara akhirnya mengumumkan pengunduran diri.
—Dengan asistensi laporan dari Artha Adventy, Pramesti Regita, dan Recha Tiara
(red)




























