“Jadi sebenarnya untuk yang ikut program ini, rezim pajak yang mereka rasakan sama dengan yang dulu. Cuma bedanya kali ini buatan Indonesia, kalau dulu CBU gitu ya,” tutur Rachmat.
“Jadi, kalau dibilang, “oh kok enggak ada insentif?’, selalu ada preferensi alternatif yang kita punya, ini masih ada. Cukup besar, signifikan.”
Di sisi lain, Rachmat juga memaparkan penjualan mobil listrik pada 2025 mencapai 104.000, angka ini naik dari dari 43.000 pada 2024. Sejak 2023 hingga 2025, penjualan mobil listrik tumbuh 147%.
Menyitir catatan Kementerian Investasi/Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM), realisasi impor CBU kendaraan bermotor listrik berbasis baterai (KLBB) pada 2024-2025 mencapai 85,03% atau 104.903 unit dari kuota yang ditetapkan sebesar 123.000 unit.
Sementara realisasi investasi mencapai RP13,8 triliun atau 87,9% dari komitmen investasi sebesar Rp15,8 triliun.
(mfd)































