Transformasi tersebut ditargetkan dapat terwujud dalam kurun waktu lima hingga enam tahun ke depan.
“Kita memimpikan bahwa transformasi PGN di dalam 5–6 tahun ke depan itu menjadi perusahaan gas negara yang mengontrol distribusi gas sampai ke rumah tangga,” katanya.
Menurut Dony, perubahan arah bisnis tersebut merupakan bagian dari upaya menulis ulang roadmap masing-masing BUMN secara menyeluruh dan mendasar.
“Transformasi di dalam BUMN ini very fundamental, menulis ulang roadmap daripada masing-masing perusahaan,” ujarnya.
Sebagai langkah awal, Danantara akan melakukan uji coba pipanisasi gas rumah tangga melalui PGAS di Batam pada tahun ini.
Dia berharap, ke depan perusahaan gas milik negara dapat berperan sebagai entitas yang secara konsisten melakukan distribusi gas langsung ke konsumen rumah tangga.
“Kita harapkan nanti bahwa perusahaan gas kita ini betul-betul perusahaan gas yang melakukan distribusi terhadap gas sampai ke rumah-rumah,” ujarnya.
Ditawar ke PHE
Sebelumnya, Arief Setiawan Handoko, mantan Direktur Utama PGAS, menuturkan perseroan tengah menawarkan Saka Energi untuk bisa dikelola oleh PT Pertamina Hulu Energi (PHE).
Sayangnya, PHE belum tertarik untuk mengambil alih Saka Energi.
“Jadi ini PR kita bersama, waktu itu kita menawarkan upstream kita dikelola sama PHE, tetapi [PHE] belum mau menerima karena tidak begitu bagus untuk diterima,” kata Arief saat RDP dengan Komisi VI DPR, Jakarta, Rabu (12/3/2025).
Lewat Saka Energi, PGAS mengelola 11 blok migas. Enam blok di antaranya telah beroperasi sementara sisanya masih dalam tahap eksplorasi.
Saka Energi turut mengimpit saham minoritas 36% di blok shale gas di Amerika Serikat (AS), yakni Blok Fasken.
Perusahaan juga memegang kendali penuh atas Blok Ujung Pangkah, Blok Sesulu Selatan, Blok Muriah, Blok Pekawai, Blok Yamdena Barat, dan Blok Sangkar.
Di sisi lain, penyertaan modal minor Saka Energi tersebar di Blok Ketapang, Blok Bengkanai Barat hingga Blok Muara Bakau.
Managing Director Energy Shift Institute Putra Adhiguna menuturkan rencana pelepasan portofolio hulu migas PGAS itu sempat mencuat pada 2019.
Menurut Putra, berlarutnya rencana divestasi Saka Energi itu mengindikasikan lini usaha hulu migas perusahaan PGN itu kurang diminati.
“Topik divestasi hulu yang sudah bertahun-tahun mengindikasikan lini usaha hulu mereka tidak terlalu diminati,” kata Putra saat dihubungi.
(art/naw)






























