Sektor investasi anjlok 10,9% pada kuartal terakhir, kemerosotan terbesar sejak awal 2021. Meski ada momentum libur akhir tahun, konsumsi rumah tangga—yang merupakan penggerak utama ekonomi Filipina—terus melambat ke level terendah sejak pandemi. Belanja pemerintah juga tersendat seiring ketatnya pengawasan terhadap alokasi infrastruktur di tengah penyelidikan korupsi yang sedang berlangsung.
"Penurunan tajam 10,9% pada pembentukan modal menggarisbawahi perlunya tata kelola yang lebih kuat—terutama dalam konsistensi regulasi, eksekusi infrastruktur, dan fasilitasi investasi—untuk memulihkan kepercayaan bisnis," kata Ruben Carlo Asuncion, kepala ekonom Union Bank of the Philippines.
Skandal penyalahgunaan dana proyek pengendalian banjir yang terungkap Juli lalu telah mengguncang Filipina dan mematikan momentum negara yang sebelumnya merupakan salah satu ekonomi dengan pertumbuhan tercepat di Asia. Pemerintah bahkan telah memangkas target pertumbuhan tahun 2026 sebesar satu poin persentase menjadi 5%-6%.
Kinerja buruk ini semakin terlihat kontras jika dibandingkan dengan ketangguhan ekonomi negara-negara Asia lainnya yang juga menghadapi tantangan tarif AS. Malaysia dan Singapura melaporkan pertumbuhan 5,7% pada kuartal keempat, sementara Vietnam melesat dengan pertumbuhan 8,46%. Bahkan, ekonomi China pun melampaui capaian Filipina.
Kondisi ini diperparah dengan risiko politik menjelang tahun 2026. Presiden Ferdinand Marcos Jr., yang sebelumnya berjanji akan memberantas korupsi, kini justru menghadapi tuntutan pemakzulan (impeachment) terkait skandal tersebut. Meski demikian, ia membantah terlibat dan sekutu politiknya di Kongres diperkirakan akan menolak upaya pemakzulan tersebut.
Angka PDB yang sangat lemah ini diprediksi akan mendorong bank sentral Filipina, Bangko Sentral ng Pilipinas (BSP), untuk kembali melonggarkan kebijakan moneternya. Gubernur BSP Eli Remolona menyatakan bahwa data yang lebih lemah dari ekspektasi akan membantu bank sentral memutuskan apakah perlu memangkas suku bunga acuan lebih lanjut pada pertemuan Februari mendatang.
Pejabat kabinet tetap optimistis bahwa ekonomi Filipina akan bangkit kembali pada paruh kedua tahun ini seiring peningkatan belanja pemerintah dan inflasi yang terkendali.
"Apa yang sedang kami coba lakukan sekarang adalah meningkatkan kualitas belanja," pungkas Balisacan. "Hal itu terutama mencakup sektor infrastruktur."
(bbn)
































