Logo Bloomberg Technoz

Hari ini, tekanan bertambah. Goldman Sach dan UBS juga memberi sentimen negatif ke IHSG.

Goldman Sach menurunkan peringkat saham Indonesia menjadi underweight. Menurut proyeksi Goldman Sachs. reklasifikasi pasar saham Indonesia dari posisi emerging market menjadi frontier market bisa menyebabkan arus keluar modal (capital ouflow) sebanyak US$ 7.8 miliar.

Skenario lebih pesimistis, outflow bisa bertambah US$ 5,6 miliar jika FTSE Russell juga ikut mempersoalkan metodologi free float dan status Indonesia.

“Kami memperkirakan passive selling akan berlanjut. Ketidakpastian akan mempengaruhi performa pasar Indonesia,” tulis analis Goldman Sachs, seperti dikutip dari Bloomberg News.

UBS juga ikut menurunkan peringkat saham Indonesia menjadi netral dari sebelumnya overweight. Seperti halnya Goldman Sachs, UBS juga mencemaskan soal potensi penurunan ‘kelas’ Indonesia dari emerging market menjadi frontier market oleh MSCI.

“Ketidakpastian akan berlangsung sampai ada kejelasan dari regulator dan reklasifikasi MSCI,” tegas catatan UBS.

Indeks JCI dan MSCI Indonesia Anjlok 28 Januari. (Bloomberg)

Fundamental Ekonomi

Apakah ‘huru-hara’ di pasar saham adalah cerminan dari ekonomi Indonesia secara keseluruhan? Apakah ekonomi Indonesia juga rapuh dan rentan seperti pasar saham?

Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa tidak berpendapat demikian. Menurutnya, ekonomi Ibu Pertiwi berada di jalur yang benar.

“Kalau untuk saya, yang penting kita perbaiki ekonominya, Kalau bursa saham jatuh gara-gara itu (MSCI) dan kita tahu itu akan diperbaiki dalam waktu yang tidak terlalu lama, sebelum Mei, harusnya sekarang a good time to buy,” tegas Purbaya. 

Sejumlah indikator menegaskan keyakinan tersebut. Pertama adalah kinerja sektor manufaktur.

S&P Global melaporkan aktivitas manufaktur Indonesia yang diukur dengan Purchasing Managers’ Index (PMI) ada di 51,2 untuk periode Desember 2025. PMI di atas 50 menandakan aktivitas yang sedang ekspansif, bukan kontraksi.

PMI Manufaktur Indonesia (Sumber: S&P Global)

“Sektor manufaktur Indonesia menutup 2025 dengan perbaikan yang berkelanjutan. Fase ekspansi bertahan selama lima bulan beruntun.

“Proyeksi untuk tahun mendatang juga membaik, di mana dunia usaha memberi sinyal optimisme tertinggi dalam tiga bulan terakhir,” sebut Usamah Bhatti. Ekonom S&P Global Market Intelligence, dalam keterangan tertulis.

Manufaktur sangat penting dalam perekonomian Indonesia. Sebab, industri manufaktur merupakan penyumbang terbesar dalam pembentukan Produk Domestik Bruto (PDB) di sisi lapangan usaha.

Dari sisi pengeluaran, kontributor terbesar dalam pembentukan PDB adalah konsumsi rumah tangga. Sumbangannya mencapai lebih dari separuh.

Konsumsi rumah tangga di Tanah Air pun sepertinya masih cukup solid. Terlihat dari Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) yang terus di atas 100, pertanda bahwa konsumen percaya diri memandang situasi ekonomi saat ini hingga enam bulan mendatang.

Pada 2025, rata-rata IKK berada di 120,9.

Indeks Keyakinan Konsumen (Sumber: BI)

Bank Indonesia (BI) memperkirakan pertumbuhan ekonomi pada 2026 bisa berada di rentang 4,9-5,7%. Lebih baik ketimbang 2025 yang diperkirakan 4,7-5,5%.

“Ke depan, sinergi bauran kebijakan ekonomi nasional antara Pemerintah dan Bank Indonesia perlu terus diperkuat dan diperluas untuk mendorong pertumbuhan ekonomi yang lebih tinggi dan berdaya tahan,” sebut BI dalam Laporan Perekonomian Indonesia 2025.

(red)

No more pages