“Pelaku pasar sudah melihat era selepas Powell. Gubernur berikutnya mungkin akan jauh lebih dovish. Siapa yang menjadi gubernur akan sangat menentukan gerak harga emas tahun ini,” kata Bart Melek, Global Head of Commodity Strategy di TD Securities, seperti dikutip dari Bloomberg News.
Emas adalah aset yang tidak memberikan imbal hasil (non-yielding asset). Memegang emas akan terasa lebih menguntungkan saat suku bunga turun.
Ke depan, pasar memperkirakan harga emas masih akan dalam tren menanjak. Dalam jangka pendek memang ada risiko koreksi, tetapi trennya masih positif.
“Ekspektasi bahwa The Fed akan lebih dovish dan risiko geopolitik akan membuat alokasi investor ke emas akan meningkat, terutama investor ritel. Di luar koreksi jangka pendek. kami masih melihat potensi kenaikan,” tutur Suki Cooper, Global Head of Commodity Research di Standard Chartered Plc, dalam catatannya.
Analisis Teknikal
Lantas bagaimana prediksi gerak harga emas untuk hari ini? Berapa saja target yang perlu diwaspadai pelaku pasar?
Secara teknikal dengan perspektif harian (daily time frame), emas mantap di zona bullish. Terlihat dari Relative Strength Index (RSI) 14 hari yang sebesar 90.
RSI di atas 50 menandakan suatu aset sedang dalam posisi bullish. Namun hati-hati, karena RSI di atas 70 artinya sudah jenuh beli (overbought).
Sedangkan indikator Stochastic RSI 14 hari ada di 97. Jauh di atas 80, jadi memang rasanya sudah jenuh beli.
Untuk perdagangan hari ini, harga emas sebenarnya berisiko turun. Maklum, kenaikannya sudah tinggi sekali sehingga tentu akan datang saatnya untuk konsolidasi.
Cermati pivot point di US$ 5.422/troy ons. Dari sini, harga emas bisa saja menguji support di rentang US$ 5.335-5.249/troy ons,
Namun andai harga emas masih kuat menanjak, maka US$ 5.553/troy ons akan menjadi resisten terdekat. Resisten lanjutan ada di kisaran US$ 5.589-5.773/troy ons.
(aji)
























